Minyak Masih Menguat Pasca Serangan Di Teluk Oman

Pada sesi perdagangan Kamis kemarin, harga komoditas minyak kembali mencatat kenaikan, menyusul serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman, sehingga membuat kondisi pasar komoditas minyak semakin memburuk akibat dari meningkatnya tensi ketegangan yang pecah di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak hingga sebesar 4.5%, telah memberikan dorongan bagi harga saham perusahaan energi, di tengah dukungan terhadap pasar saham global dari prospek pemangkasan suku bunga The Fed di tahun ini. Teluk Oman terletak di ujung Selat Hormuz yang memang lokasinya sangat strategis sebagai bagian dari jalur pelayaran vital bagi pengiriman setidaknya 15 juta barrel minyak mentah serta sebagai jalur impor non minyak yang bernilai hingga ratusan juta Dollar setiap harinya.

Terkait serangan tersebut, Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo menuduh Iran bertanggung jawab terhadap insiden tersebut dan mengatakan bahwa pihak AS akan meningkatkan serangan pada pertemuan Dewan Keamanan AS yang dijadwalkan semalam, namun pihak Iran justru menilai bahwa serangan tersebut sedikit mencurigakan, yang artinya disini mereka menilai adanya kemungkinan konspirasi untuk menjatuhkan nama Iran di mata internasional.

Harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli, ditutup dengan kenaikan 2.2%, membalikkan penurunan sebelumnya pasca laporan persediaan minyak AS yang memberikan tekanan bearish. John Hall, ketua konsultan Alfa Energy yang bermarkas di Inggris, menilai bahwa ketegangan yang semakin tinggi di Timur Tengah, terkait serangan terhadap dua kapal tanker, semakin memperburuk situasi saat ini, meskipun nampaknya serangan itu tidak menimbulkan kerusakan yang berarti terhadap minyak yang dibawa oleh kedua kapal tanker tersebut.

Sementara Eurasia Group mencatat bahwa insiden itu nampaknya mempunyai tujuan untuk menunjukkan bahwa pengiriman minyak Teluk sangat rentan, dan sekaligus merusak kepercayaan terhadap kemampuan AS dalam melindungi kebebasan navigasi di wilayah tersebut. Lebih lanjut disebutkan bahwa kenaikan harga minyak telah dibatasi oleh inventaris yang tinggi iserta kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.(WD)

Related posts