Minyak Membukukan Kenaikan Kuartal Terbesar Sejak 2009

Harga minyak dunia kembali mencatat kenaikan di sesi perdagangan hari ini, didukung oleh pengurangan pasokan yang dipimpin oleh organisasi negara produsen OPEC serta ditambah lagi dengan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela. Dengan kenaikan ini maka harga minyak mentah berhasil membukukan kenaikan kuartal pertama terbesar sejak tahun 2009 silam.

Minyak mentah Berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini mencatat kenaikan hingga sebesar 0.03% di sesi perdagangan hari ini. Kenaikan harga minyak hingga hari ini terus mendapatkan dukungan dari upaya OPEC dan negara produsen non-OPEC lainnya untuk memangkas output produksi minyak hingga 1.2 juta barrel per hari guna menopang harga minyak hingga hari ini.

Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, mengatakan bahwa pemangkasan produksi dari kelompok produsen OPEC+ telah menjadi alasan utama untuk pemulihan yang dramatis sejak penurunan harga hingga 38% selama kuartal terakhir di tahun lalu. Lonjakan harga ini telah memicu reaksi dari Presiden AS Donald Trump kepada OPEC untuk meningkatkan produksi minyaknya hingga minyak dunia menyentuh harga yang lebih rendah.

Dalam sebuah cuitannya di Twitter, Trump mengatakan bahwa saat ini sangat penting artinya bagi OPEC untuk meningkatkan aliran produksi minyak mereka, seiring pasar global yang tengah dalam kondisi rapuh dan harga minyak mentah yang terlalu tinggi.

Lembaga OPEC dan negara produsen minyak non-OPEC berencana untuk melakukan pertemuan di bulan Juni mendatang guna membahas apakah akan tetap melanjutkan menahan pasokan atau tidak. Pemimpin OPEC secara de facto, Arab Saudi telah memberikan dukungan bagi kebijakan pemangkasan produksi selama setahun penuh, sementara Rusia, sebagai pemimpin negara produsen non-OPEC, nampaknya kurang tertarik untuk terus menahan diri dalam membatasi produksi minyaknya hingga September mendatang.

Akan tetapi kebijakan pengurangan dari OPEC+ bukanlah satu-satunya faktor yang mendukung kenaikan harga minyak di tahun ini, akan tetapi sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela juga menjadi alasan terjadinya lonjakan harga minyak. Meskipun demikian para analis mengungkapkan kekhawatiran mengenai permintaan minyak di masa depan, di tengah tanda-tanda kekhawatiran bahwa ekonomi global berpotensi mengalami resesi.

Dalam hal kebijakan pemangkasan produksi minyak, Bank of America mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan bahwa harga minyak akan mengalami peningkatan dalam jangka pendek, meskipun bank tersebut memberikan peringatan mengenai resesi di tahun 2020 mendatang.(WD)

Related posts