Header Ads

Minyak Menguat Didukung Langkah Stimulus Global

Harga minyak kembali mencatat kenaikan sejak sesi perdagangan Asia hari ini, seiring kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent yang berpotensi membukukan kenaikan bulanan kelimanya secara beruntun, akibat langkah-langkah stimulus global yang mendukung harga di saat laju permintaan berupaya naik untuk kembali ke level sebelum pandemi.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent untuk bulan Agustus akan ditutup dengan mencatat kenaikan harga bulanan kelimanya secara berturut-turut, setelah mencapai level puncaknya di $46.23 per barrel, yang merupakan level tertingginya sejak bulan Maret, sementara minyak mentah kenis WTI masih berada di jalur kenaikan bulanan keempatnya dan mencapai $43.78 per barrel pada 26 Agustus lalu saat Badai Laura melanda.

Sebagian besar pasar minyak nampaknya mengabaikan dampak dari badai di hari Jumat lalu, seiring perusahaan energi melanjutkan upayanya untuk memulihkan aktifitas operasional di anjungan lepas pantai teluk AS setelah aktifitas kilang ditutup sebelum terjadinya badai.

Dukungan bagi harga minyak datang dari melemahnya mata uang US Dollar serta kinerja yang sangat kuat di sektor jasa Cina, meskipun permintaan bahan bakar telah berjuang untuk pulih di tengah pandemi virus corona serta pasokan yang tetap mencukupi meskipun minyak mentah kemungkinan akan menghadapi rintangan di masa mendatang.

Analis OANDA untuk pasar Asia Pasifik, Jeffrey Halley mengatakan bahwa harga minyak kemungkinan akan naik lebih tinggi secara perlahan secara moderat dan pasokan jangka pendek yang melimpah serta rapuhnya pemulihan global akan menekan kenaikan harga minyak.

Sementara analis di RBC Capital Mike Tran mengatakan bahwa dampak nilai tukar Dollar yang lebih rendah dari level saat ini akan mendatangkan dampak yang minimal terhadap pembelian minyak mentah, terlepas dari harga minyak mentah yang sedikit lebih menguntungkan.

Dalam sebuah catatannya pada 27 Agustus lalu, Tran menambahkan bahwa hubungan antara laju permintaan dan elastisitas harga kurang mendapat dukungan secara tajam dalam kondisi saat ini, karena minyak dinilai telah berada di harga rendah dan terjadi kelangkaan pembeli saat ini.

Sebuah data dari Refinitiv dan Vortexa menunjukkan bahwa impor minyak mentah Cina di bulan September akan mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir karena rekor volume minyak mentah disimpan di dalam dan di luar negara importir minyak terbesar dunia tersebut.

Sebagai refleksi dari adanya kekhawatiran mengenai meningkatnya pasokan dan pemulihan ekonomi global yang berjalan lamban, pihak hedge fund dan money manager telah memangkas taruhan bullish mereka terhadap minyak mentah AS hingga ke level terendahnya dalam hampir empat bulan terakhir.

Sedangkan menurut data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes Co, disebutkan bahwa harga minyak dan gas yang lebih tinggi juga mendorong pihak produsen AS untuk melanjutkan aktifitas pengeboran karena jumlah rig minyak dan gas AS mencatat kenaikan menjadi 254 di bulan Agustus.

Secara terpisah kantor berita Arab Saudi SPA melaporkan bahwa Menteri Energi Kerajaan Arab Saudi mengatakan bahwa Saudi Aramco telah menemukan dua ladang minyak dan gas baru di wilayah Utara negara produsen minyak utama OPEC tersebut.(WD)

Related posts