Header Ads

Minyak Menguat Menjelang Pertemuan OPEC

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan di sesi perdagangan hari ini, seiring para pedagang yang menunggu untuk melihat apakah negara produsen utama minyak akan menyetujui untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan output besar mereka guna menopang harga minyak dunia dalam pertemuan secara virtual di akhir pekan ini.

Analis komoditas di Commonwealth Bank, Vivek Dhar mengatakan bahwa keseluruhan pergerakan minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pengurangan pasokan dan pemulihan permintaan minyak dunia.

Negara-negara produsen yang tergabung dalam kelompok OPEC+ saat ini tengah mempertimbangkan untuk memperpanjang kebijakan penurunan produksi mereka hingga sebesar 9.7 juta barrel per hari, atau sekitar 10% dari total produksi global, hingga di bulan Juli atau Agustus mendatang yang akan diputuskan pada pertemuan secara online yang kemungkinan akan diadakan pada 4 Juni lusa.

Hal ini diperkuat oleh komentar dari kepala riset komoditas di CitiGroup, Edward Morse yang mengatakan bahwa kemungkinan besar kelompok OPEC+ dapat memperpanjang pemangkasan produksi mereka saat ini hingga 1 September mendatang, dengan pertemuan yang ditetapkan sebelum itu guna memutuskan langkah selanjutnya.

Pada pekan lalu sebuah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Arab Saudi telah memimpin perundingan untuk mendorong perpanjangan pemotongan yang lebih berat.

Namun analis di ING Bank mengatakan bahwa Rusia akan menjadi hambatan utama dalam perpanjangan kebijakan apapun dan mereka kemungkinan tidak akan mau menyepakati perpanjangan apapun yang melampaui periode beberapa bulan kedepan.

Lebih lanjut Vivek Dhar mengatakan bahwa perpanjangan kebijakan pemangkasan output tersebut berpotensi mendorong harga minyak menjadi $40 per barrel, tetapi harus ada tindak lanjut atas komitmen untuk mempertahankan harga minyak yang lebih tinggi.

Penurunan stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, yang turun menjadi 54.3 juta barel dalam sepekan hingga 29 Mei, juga mendukung kenaikan harga.

Akan tetapi sebuah jajak pendapat dari Reuters menunjukkan bahwa keseluruhan stok minyak AS kemungkinan akan mengalami peningkatan di pekan lalu.

Hingga saat ini laju kenaikan harga minyak telah mengalami hambatan terkait ketegangan perdagangan antara AS-Cina terhadap Undang-Undang keamanan pemerintah Beijing di Hong Kong, serta data dari sektor manufaktur pada Senin kemarin yang menunjukkan bahwa sektor pabrikan di dunia masih harus berjuang untuk keluar dari melemahnya laju permintaan.(WD)

Related posts