Minyak Mentah AS Bertahan Di Kisaran Rendahnya

Harga minyak masih bergerak di kisaran rendahnya, sehingga mendorong minyak mentah AS berada di level terendahnya dalam lebih dari dua pekan terakhir seiring perselisihan tarif yang semakin intensif antara AS-Cina yang meruntuhkan keyakinan terhadap pertumbuhan global.

Minyak mentah berjangka AS turun sekitar 0.59% di $53.59 per barrel, setelah sebelumnya menyentuh $52.96 yang merupakan level terendah sejak 9 Agustus. Semua ini tidak terlepas dari kekhawatiran mengenai perlambatan global, di tengah semakin meningkatnya perselisihan dagang antara AS dan Cina.

Dalam sebuah catatannya Morgan Stanley mengatakan bahwa putaran tarif baru dalam perang perdagangan memicu eskalasi risiko lebih lanjut sehingga semakin menekan pertumbuhan global.

Analis pasar di Oanda, Jeffrey Halley menilai bahwa satu-satunya hal yang mampu mendukung pasar minyak di pekan ini adalah jika pihak Beijing melakukan pembicaraan yang lebih insentif dengan AS dan masing-masing mengambil langkah kompromi dengan saling mundur dari kebijakan tarif keduanya.

Sikap Dovish Jerome Powell saat menyampaikan pidatonya pada simposium ekonomi tahunan di Jackson Hole Jumat lalu, memberikan sedikit petunjuk mengenai apakah bank sentral akan kembali memangkas suku bunga di pertemuan kebijakan berikutnya.

Akan tetapi kontraksi yang dialami oleh industri manufaktur AS, yang mencatat penurunan bulanan pertama dalam hampir satu dekade terakhirnya. Selisih harga sempat melonjak pasca Cina memasukan minyak mentah AS dalam daftar impor yang dikenakan tarif untuk pertama kalinya.

U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC), mengatakan bahwa para pelaku pasar termasuk hedge fund menempatkan taruhan bullish mereka terhadap minyak mentah AS hingga ke level tertinggi triwulanan dalam pekan terakhir di bulan ini. Seiring para produsen memangkas pengeluaran mereka untuk aktifitas drilling and completions, para perusahaan energi di AS telah memangkas aktifitas sebagian besar rig pengeboran, hingga jumlah rig yang diaktifkan turun ke level terendahnya sejak Januari 2018.(WD)

Related posts