Minyak Mentah Bergerak Ke Kisaran Harga Yang Lebih Tinggi

Harga minyak mentah kembali beringsut ke kisaran lebih tinggi di sesi perdagangan waktu Asia pada hari ini, menyusul dukungan dari harapan bahwa pertemuan antara anggota OPEC dengan negara produsen sekutu di hari Kamis besok akan memicu penurunan produksi guna menopang harga yang telah mengalami penurunan tajam di tengah pandemi virus.

Saat sesi awal perdagangan waktu Asia, minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate naik 5.5% menjadi $24.93 per barrel setelah mengalami penurunan 9.4% di sesi perdagangan sebelumnya.

Pertemuan melalui video conference di hari Kamis besok antara negara anggota OPEC dan negara produsen sekutunya termasuk Rusia, secara luas diharapkan lebih sukses dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya di awal Maret.

Seperti diketahui bahwa pertemuan sebelumnya berakhir dengan kegagalan untuk memperpanjang pemangkasan produksi sehingga terjadi perang harga antara Arab Saudi dan Rusia di tengah permintaan yang terus mengalami penurunan.

Namun demikian pasar menilai bahwa masih ada keraguan terhadap peran AS dalam kebijakan pembatasan produksi minyak global.

Diperkirakan bahwa Arab Saudi, negara-negara anggota OPEC dan Rusia kemungkinan setuju untuk memangkas produksi, tetapi kesepakatan itu dapat bergantung pada apakah Amerika Serikat akan setuju dengan pemotongan produksi minyaknya.

Dalam sebuah catatannya ANZ Research menilai bahwa Arab Saudi dan Rusia terus menuntaskan kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentahnya, namun yang jelas saat ini pihak AS harus terlibat dalam kebijakan tersebut.

Sementara itu Energy Information Administration (EIA), menyampaikan bahwa produksi minyak mentah AS diperkirakan akan turun 470 ribu barrel per hari dan permintaan akan turun sekitar 1.3 juta barrel per hari pada tahun 2020.

Selain itu American Petroleum Institute (API) pada Selasa kemarin telah merilis data persediaan minyak mentah AS yang mengalami lonjakan 11.9 juta barrel menjadi 473.8 juta barrel di pekan yang berakhir pada 3 April lalu.

API juga melaporkan penurunan permintaan bahan bakar di tengah wabah virus, sehingga stok persediaan bensin mengalami kenaikan 9.4 juta barrel, menandai kenaikan terbesar mingguan sejak Januari 2017 lalu.(WD)

Related posts