Minyak Mentah Kemungkinan Mencatat Penurunan Mingguan Terburuk

Minyak mentah diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan terburuknya sejak krisis keuangan 2008 silam, meskipun naik 2% di sesi perdagangan hari ini, seiring para investor yang tengah mengamati semakin meredupnya permintaan minyak akibat pandemi virus dan peningkatan produksi dari negara produsen utama.

Harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan 4.33% ke $32.24 per barrel, sementara minyak mentah jenis Brent naik 2.1% di $33.92 per barrel.

Kepala Strategi Pasar di CMC Markets di Sidney, Michael McCarthy mengatakan bahwa ini akan menjadi minggu yang sangat sulit dan karenanya bukan tidak mungkin para investor akan mengunci keuntungannya menjelang akhir pekan.

Melimpahnya pasokan minyak dunia dengan harga yang murah dari Arab Saudi sebagai negara eksportir terbesar dunia, diikuti oleh Uni Emirat Arab mengintensifkan tekanan pada harga setelah jatuhnya harga yang mendukung perjanjian dengan Rusia minggu lalu.

Goldman Sachs mengatakan bahwa lonjakan produksi minyak berbiaya rendah yang lebih besar secara signifikan dari yang diharapkan, ditambah dengan jatuhnya laju permintaan karena wabah virus, telah semakin meluas dan hal inilah yang menjadi faktor utama timbulnya tekanan bagi harga minyak.

Rusia, produsen terbesar kedua di dunia, tampaknya tidak mau kembali ke perjanjiannya dengan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Dikabarkan bahwa perusahaan-perusahaan energi di AS, produsen minyak mentah terbesar dunia, sedang bersiap untuk memotong investasi dan rencana pengeboran karena jatuhnya harga.

Daniel Yergin, sejarawan energi AS, mengatakan mungkin perlu waktu sebelum pasar minyak sedikit tenang seiring langkah seluruh negara di dunia yang berupaya untuk meredam wabah virus corona, sementara di satu sisi Arab Saudi dan Rusia mencoba membanjiri pasar dengan pasokan minyak yang berlimpah.(WD)

Related posts