Header Ads

Minyak Mentah Masih Mempertahankan Rebound

Harga minyak mentah berjangka kembali mencatat kenaikan dalam dua hari berturut-turut di sesi perdagangan hari ini, seiring harapan bahwa produsen minyak AS akan memangkas output mereka sehingga akan memberikan dukungan bagi harga minyak.

Akan tetapi kenaikan ini kemungkinan akan terbatas oleh meningkatnya keraguan mengenai paket stimulus dari Washington untuk melawan virus corona yang penyebarannya semakin meluas secara global.

Saat ini minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate berada di kisaran $34 per barrel, setelah sempat menyentuh $36 per barrel di sesi perdagangan waktu Asia pagi hari tadi.

Namun demikian setidaknya harga minyak telah mulai pulih sekitar setengah dari kerugian sebesar 25% yang diderita oleh minyak mentah di sesi perdagangan Senin, yang dipicu oleh perang harga antara dua negara produsen minyak Arab Saudi dan Rusia.

Satoru Yoshida selaku seorang analis komoditas di Rakuten Securities, mengatakan bahwa harapan bahwa produsen shale oil AS perlu untuk memangkas produksinya, telah membantu meningkatkan sentimen di pasar komoditas minyak.

Produsen shale oil di AS, termasuk Occidental Petroleum telah memperdalam pemangkasan pengeluaran yang dapat mengurangi produksi setelah harga minyak mentah mengalami kemerosotan hingga ke level terendahnya dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Pasar minyak dan ekuitas melakukan rebound solid pada hari Selasa setelah pukulan hari sebelumnya, seiring adanya tanda-tanda tindakan terkoordinasi oleh ekonomi terbesar dunia untuk meredam dampak ekonomi dari epidemi virus.

Dalam sebuah catatanya ANZ menyebutkan bahwa rebound yang terjadi di pasar minyak mentah diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama, setelah pihak Arab Saudi dan Rusia saling mengklaim mengenai seberapa banyak kedua negara tersebut mampu meningkatkan produksi minyaknya saat perang harga dimulai antar keduanya.

Pada Selasa kemarin Arab Saudi mengatakan bahwa mereka akan meningkatkan produksi minyak mereka hingga ke rekor tertingginya pada bulan April mendatang, yang mana hal ini akan meningkatkan pertaruhan mereka dengan Rusia.

Selain itu pihak kerajaan Saudi juga secara efektif telah menolak saran dari Moskow untuk melakukan pembicaraan baru mengenai tingkat produksi mereka.

Hal ini disampaikan oleh Ito Mashino selaku seorang analis di Mitsui & Co Global Strategic Studies Institute, yang mengatakan bahwa pihak Arab Saudi telah gagal untuk meningkatkan pangsa pasar saat mereka meningkatkan outputnya untuk sementara waktu di 2014 silam, yang diakibatkan oleh produsen shale oil AS yang menunjukkan toleransi yang lebih kuat untuk menahan harga minyak karena efisiensi yang meningkat, sehingga menggarisbawahi pengaruh terbatas Saudi sebagai produsen minyak utama di dunia.

Pada hari Selasa kemarin lembaga American Petroleum Institute melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah AS di pekan lalu, di tengah penurunan stok bensin dan minyak distilasi. Sedangkan data resmi dari lembaga Energy Information Administration baru akan dirilis pada malam hari nanti waktu AS.(WD)

Related posts