Header Ads

Minyak Mentah Memperpanjang Kerugian Sejak Pekan Lalu

Pada sesi perdagangan awal pekan ini harga minyak mentah mencatat penurunan lebih dari 2% sekaligus memperpanjang kerugian yang dialami sejak perdagangan pekan lalu, akibat infeksi baru dari virus corona yang menghantam Cina dan AS, sehingga meningkatkan prospek bahwa wabah virus yang baru dapat membebani pemulihan permintaan bahan bakar.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent Crude turun 2.3%, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate mencatat 3.3% hingga sesi perdagangan waktu Eropa siang ini.

Adanya laporan yang menyebutkan terjadinya infeksi virus corona di Beijing, telah meningkatkan kekhawatiran mengenai gelombang pandemi setelah sebelumnya penyebaran wabah virus tersebut terjadi di kota Wuhan pada akhir tahun lalu.

Selama sesi perdagangan pekan lalu benchmark minyak turun hingga sekitar 8%, yang merupakan penurunan mingguan pertamanya sejak April, seiring meningkatnya kasus infeksi virus corona di AS.

Dalam sebuah catatannya ING Economics mengatakan bahwa pemulihan permintaan minyak telah ditetapkan untuk menjadi proses yang panjang, dan gelombang kasus baru pasti akan meningkatkan kekhawatiran bahwa pemulihan permintaan kemungkinan akan lebih lama dari yang diperkirakan.

Output industri Cina sebagai negara importir minyak mentah terbesar di dunia,dilaporkan naik dalam dua bulan berturut-turut di bulan Mei namun angka kenaikannya lebih kecil dari yang diharapkan, sehingga menunjukkan bahwa negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut tengah berjuang untuk kembali ke jalurnya.

Sebuah data pemerintah Cina menyebutkan bahwa kilang negara tersebut telah meningkatkan through put mereka selama bulan Mei sebesar 8.2% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun lalu menjadi 13.6 juta barrel per hari.

Panel pemantauan yang dipimpin OPEC akan bertemu pada hari Kamis untuk membahas rekor penurunan produksi yang sedang berlangsung dan melihat apakah negara-negara telah memberikan bagian pengurangan mereka, namun lima sumber dari OPEC+ mengatakan bahwa pada pertemuan tersebut tidak akan ada keputusan apapun.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang lebih dikenal sebagai OPEC+, telah mengurangi pasokan sebanyak 9.7 juta barrel per hari atau sekitar 10% dari laju permintaan pra-pandemi dan telah sepakat di awal bulan ini untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan selama sebulan hingga akhir Juli mendatang.

Salah seorang pejabat Irak mengatakan kepada Reuters bahwa Irak yang sebelumnya disebut sebagai salah satu penghambat kepatuhan terhadap kebijakan pembatasan produksi, telah setuju dengan perusahaan minyak utama untuk memangkas produksi minyak lebih lanjut selama bulan ini.(WD)

Related posts