Minyak Sempat Mencatat Kenaikan Tipis Seiring Turunnya Persediaan AS

Harga komoditas Minyak sempat mencatat kenaikan tipis saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang ini, seiring dukungan dari penurunan pasokan yang diprakarsai oleh OPEC serta penurunan persediaan minyak mentah AS yang mengejutkan pasar, namun kenaikan ini justru berbalik turun menyusul laju produksi minyak AS yang masih kuat.

Hingga berita ini diturunkan, harga minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate terpantau turun 0.17% di kisaran $63.60 per barrel. US Department of Energy melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebanyak 1.4 juta barrel di minggu yang berakhir 12 April lalu. Angka ini belum bisa mematahkan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sebanyak 1.7 juta barrel.

Benjamin Lu, analis komoditas di broker Phillip Futures yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa latar belakang fundamental untuk harga minyak tetap menunjukkan kondisi yang positif secara luas, di tengah semakin ketatnya pasokan global untuk jangka waktu saat ini.

Selama ini harga minyak dunia mendapatkan dukungan dari kesepakatan yang dicapai oleh OPEC beserta sekutunya termasuk Rusia, guna membatasi produksi minyak hingga sebesar 1.2 juta barrel per hari. Selain itu pasokan minyak global juga semakin diperketat oleh sanksi AS terhadap anggota OPEC yaitu Venezuela dan Iran.

Sejak sanksi tersebut diberlakukan, ekspor minyak mentah Iran telah mengalami penurunan di bulan ini hingga menyentuh level terendah hariannya selama tahun ini. Sehingga kondisi ini menunjukkan penurunan minat para pembeli menjelang tekanan lebih lanjut yang diharapkan oleh pihak Washington. Tetapi meningkatnya produksi minyak AS dan kekhawatiran atas perselisihan perdagangan A.S. China terus menguat.

Hal ini diutarakan oleh Abhishek Kumar, selaku Kepala Analisis di Interfax Energy di London, yang mengatakan bahwa peningkatan secara terus menerus di output minyak AS serta masih adanya kekhawatiran dari sisi permintaan minyak akibat dari perselisihan dagang AS-Cina, dinilai akan membatasi kenaikan harga minyak mentah dunia.

Energy Information Administration AS mengatakan dalam laporan bulanannya, bahwa output minyak mentah A.S. dari tujuh formasi shale utama diperkirakan naik sekitar 80,000 barel per hari di Mei, hingga ke rekornya sebanyak 8.46 juta barrel per harinya. Adanya lonjakan produksi minyak AS telah mengisi sejumlah kesenjangan dalam pasokan, meskipun tidak semua produksi yang hilang dapat digantikan oleh produk Shale Oil AS menyusul kebijakan konfigurasi kilang minyak.

Lebih lanjut Kumar menilai bahwa penurunan secara tidak terduga terhadap stok minyak mentah AS, mampu diimbangi oleh penurunan yang lebih rendah dari yang diperkirakan dari produk bensin dan hasil olahan penyulingan di negara tersebut. Stok bensin AS turun 1.2 juta barrel, kurang dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters, di angka 2.1 juta barrel. Sementara stok hasil penyulingan, meliputi diesel dan minyak pemanas, turun sebanyak 362,000 barrel, atau tidak sebanyak yang diperkirakan oleh para analis sebesar 846,000 barrel.(WD)

Related posts