Minyak Stabil Pasca Kejatuhan Tajam Di Pekan Lalu

Setelah kerugian besar yang dialami oleh komoditas minyak mentah pada pekan lalu, yang diakibatkan oleh trade war yang memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global, harga minyak tetap bergerak stabil namun Arab Saudi selaku eksportir minyak utama, tengah berusaha untuk menenangkan pasar.

Sebagai pemimpin OPEC secara de facto, Arab Saudi memberikan indikasi bahwa OPEC bersama dengan Rusia akan terus mengelola pasokan minyak mentah global untuk menghindari surplus persediaan minyak mentah global.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih, mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar setelah bulan Juni, yang menjadi batas kebijakan pembatasan produksi OPEC, yang mana hal ini berarti akan menarik laju investasi dari level saat ini.

Pasar global telah tergelincir dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi dapat terhenti, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina, sebagai dua negara ekonomi terbesar dunia dan sekaligus menjadi negara konsumen energi terbesar.

Kecemasan yang terjadi semakin tinggi, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif hukuman terhadap Meksiko, sebagai salah satu negara utama pemasok minyak ke AS. Akan tetapi dalam masa ketidakpastian saat ini, komoditas Emas mencatat kenaikan ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan, karena para investor telah beralih dari aset komoditas berisiko seperti minyak mentah ke aset yang dianggap lebih aman.

Harga minyak mentah brent telah turun hampir 20% dari level puncaknya yang dicapai pada tahun 2018 lalu karena pasokan minyak global diperketat karena pembatasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan Rusia, serta penurunan ekspor Iran karena sanksi AS dan jatuhnya laju produksi minyak Venezuela.(WD)

Related posts