Header Ads

Minyak Terimbas Melambatnya Pemulihan Ekonomi AS

Komoditas minyak mentah kembali mengalami penurunan seiring beban yang timbul dari kekhawatiran terhadap melambatnya pemulihan ekonomi AS karena masih berlanjutnya pandemi virus corona, menyusul diberlakukannya kembali kebijakan pembatasan perjalanan dari Eropa ke sejumlah negara.

Dengan kondisi kecemasan terhadap permintaan dan prospek ekonomi akibat dari kebangkitan jumlah infeksi baru virus corona, telah memberikan dorongan bagi greenback untuk reli. karena para investor telah beralih ke aset yang lebih aman, sehingga semakin menambah tekanan terhadap harga minyak yang menjadi kurang menarik bagi para investor global.

Sebelumnya kedua jenis minyak mentah acuan mengalami sedikit kenaikan di sesi perdagangan hari Rabu kemarin, setelah data pemerintah menunjukkan bahwa stok minyak mentah dan bahan bakar AS mengalami penurunan.

Namun demikian tingkat permintaan bahan bakar di AS masih tetap dalam kondisi lemah akibat pandemi yang membatasi aktifitas perjalanan.

Harga minyak mentah mengalami penurunan setelah sejumlah faktor seperti data ekonomi yang menunjukkan bahwa aktifitas bisnis AS mengalami perlambatan di bulan September, pejabat Federal Reserve menandai kekhawatiran mengenai laju pemulihan yang terhenti serta pemberlakuan pembatasan di Inggris dan Jerman untuk membendung jumlah infeksi virus, yang kesemuanya telah mempengaruhi prospek permintaan terhadap bahan bakar.

Jeffrey Halley selaku analis pasar senior di OANDA mengatakan bahwa harga minyak mengalami pelemahan seiring berlimpahnya produk untuk pengiriman dalam jangka waktu dekat, dan selain itu kekhawatiran terhadap prospek konsumsi meningkat karena kebijakan pembatasan kembali di Eropa serta adanya desakan dari dari Federal Reserve untuk lebih banyak stimulus fiskal sehingga merusak laju pemulihan global yang menjadi kunci bagi pemulihan harga minyak mentah.

Sementara itu dari sisi penawaran, para pelaku pasar masih tetap mewaspadai terhadap dimulainya kembali aktifitas ekspor minyak dari Libya, meskipun hal ini belum memberikan gambaran secara jelas mengenai seberapa cepat hal ini mampu meningkatkan volume.

Kewaspadaan pasar ini timbul menyusul upaya dari National Oil Corp Libya untuk meningkatkan produksi minyak mereka menjadi 260 ribu barrel per hari di pekan depan, yang menurut Vivek Dhar selaku analis komoditas di Commonwealth Bank bahwa hal ini merupakan sesuatu yang jelas tidak dibutuhkan oleh pasar minyak untuk saat ini.(WD)

Related posts