Header Ads

Minyak Turun Seiring Kenaikan Persediaan Minyak Mentah AS

Pasca dirilisnya data yang menunjukkan adanya peningkatan persediaan minyak mentah AS serta janji dari Arab Saudi untuk menjaga keseimbangan pasar, harga minyak dunia terpantau turun hingga memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang ini. Namun para analis mengatakan bahwa pasar komoditas minyak tetap ketat, di tengah pengurangan pasokan yang dpimpin oleh OPEC serta di saat meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah.

Minyak berjangka jenis West Texas Intermediate hingga kini terpantau turun 0.62% saat masuk sesi perdagangan waktu Eropa. Pada hari Selasa kemarin, American Petroleum Institute mengatakan bahwa stok minyak mentah AS naik 2.4 juta barrel pada pekan lalu, menjadi 480.2 juta barrel, mematahkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan stok minyak mentah sebanyak 599 ribu barrel.

Nanti malam akan dirilis data resmi stok minyak AS dari Energy Information Administration (EIA). Saat ini Arab Saudi telah berada di garis depan untuk kebijakan pemangkasan pasokan yang dipimpin oleh OPEC, yang dimulai sejak awal tahun ini dan bertujuan untuk mengurangi kelebihan pasokan global.

Akibat kebijakan pemangkasan produksi ini, Bank of America Merrill Lynch mengatakan bahwa produksi minyak mentah OPEC dan negara sekutunya, turun 2.3 juta barrel per hari antara November 2018 hingga April 2019. Bank tersebut mengatakan bahwa sejumlah dampak dari pemangkasan itu diimbangi oleh perlambatan pertumbuhan permintaan minyak global karena ketegangan perdagangan menjadi hanya 0.7 juta barrek per hari di kuartal terakhir tahun lalu serta kuartal pertama di tahun ini, lebih rendah dari rata-rata dalam lima tahun terakhir di kisaran 1.5 juta barrel per hari.

Meskipun mengalami perlambatan, bank asal AS, Morgan Stanley mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan harga minyak jenis Brent akan diperdagangkan di kisaran antara $75- $80 di periode paruh kedua tahun ini, seiring dukungan oleh ketatnya pasokan dan permintaan fundamental.

Selain itu ketegangan antara AS dengan Iran masih menjadi fokus perhatian dari para pelaku pasar, seiring Presiden Doland Trump mengancam Iran dengan kekuatan yang besar jika menyerang kepentingan AS di Timur Tengah. Ketegangan semakin meningkat sejak Trump memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran, sebagai upaya untuk membuat ekonomi negara tersebut menyusut sekaligus untuk menghentikan program nuklirnya.(WD)

Related posts