Header Ads

Minyak Turun Seiring Seruan Trump Kepada OPEC

Harga minyak dunia kembali melemah di sesi perdagangan hari ini, sekaligus memperpanjang kerugian hingga lebih dari 3% dari sesi perdagangan sebelumnya, akibat dari permintaan Presiden Donald Trump kepada OPEC untuk mengendalikan upaya mereka guna mendorong harga minyak naik lebih tinggi. Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate AS mencatat penurunan 0.5% hingga memasuki sesi perdagangan waktu Eropa hari ini.

Para analis menilai bahwa AS, sebagai konsumen minyak terbesar dunia, nampaknya belum siap untuk menghadapi kenaikan harga minyak yang didukung oleh upaya pengurangan laju produksi minyak oleh negara eksportir besar. Diberitakan bahwa pada hari Senin kemarin, Presiden Donald Trump menyatakan keprihatinannya mengenai harga minyak, sekaligus mengulang seruan sebelumnya kepada OPEC untuk menjaga kestabilan harga minyak dunia.

Terkait turunnya harga minya tersebut, analis pasar senior di OANDA, Jeffrey Halley mengatakan bahwa pasar minyak sebelumnya telah merasa optimis seiring potensi tercapainya kesepakatan perdagangan antara AS dengan Cina dalam dua pekan terakhir, sehingga hal tersebut mengakibatkan harga minyak mengalami rally yang panjang dan oleh karena itu sangat rentan terhadap timbulnya aksi jual yang dipicu oleh fundamental utama global.

Sementara analis teknis komoditas dari Reuters, Wang Tao mengatakan bahwa secara teknikal minyak mentah AS mencoba menguji level support di $54.39 per barrel, dan jika break down di bawah level ini maka minyak berpotensi turun hingga ke $53.18 per barrel.

Para analis juga mencatat bahwa di saat Trump berusaha untuk menurunkan harga minyak ke level yang lebih rendah, di satu sisi pemberlakuan sanksi AS terhadap negara eksportir minyak Iran dan Venezuela, telah memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga yang terjadi baru-baru ini, serta sekaligus menciptakan pondasi harga yang baru. Namun demikian di saat pihak Washington memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran pada bulan November lalu, mereka juga memberikan keringanan kepada delapan negara konsumen minyak Iran untuk mengimpor minyak selama 180 hari kedepan sejak diberlakukannya sanksi tersebut, yang mana keringanan ini akan berakhir pada bulan Mei mendatang.

Di lain pihak Benjamin Lu, selaku analis komoditas di perusahaan pialang Philip Futures, mengatakan bahwa penurunan tajam terhadap harga minyak kemungkinan diakibatkan oleh kegelisahan pasar mengenai kemungkinan adanya keringanan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran pada bulan Mei nanti. Lu juga menambahkan bahwa efek dari keringanan tambahan dari AS kepada Iran, berpotensi menghambat upaya OPEC untuk menyeimbangkan kembali harga minyak di pasar pada tahun ini, di tengah harga minyak yang terus menghadapi tantangan dari peningkatan produksi minyak AS serta prospek melemahnya pertumbuhan global, sehingga akan mempengaruhi laju permintaan terhadap komoditas minyak.(WD)

Related posts