Minyak WTI Masih Bertahan Di Kisaran $50 Per Barrel

Harga minyak mengalami penurunan tipis di sesi perdagangan awal pekan ini, namun masih bertahan di kisaran $50 per barrel seiring penilaian para pedagang terhadap laju permintaan minyak dari Cina pasca terjadinya wabah virus, sekaligus menunggu keputusan dari para negara produsen utama minyak untuk memangkas laju produksi mereka lebih lanjut sebagai upaya untuk menyeimbangkan pasar.

Minyak mentah telah mencatat penurunan hingga 20% dari level puncaknya pada Januari lalu, setelah merebaknya kabar mengenai penyebaran virus Corona dari Cina yang menekan laju permintaan dari negara importir minyak terbesar dunia tersebut dan sekaligus juga memicu kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan minyak global.

Manajer komoditas senior di Philips Futures Singapura, Avtar Sandu mengatakan bahwa secara keseluruhan sentimen masih bearish namun pasar tengah dalam kondisi oversold, sehingga para pedagang melakukan aksi ambil untung setelah harga mencapai level yang mendapat dukungan secara teknikal.

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak tidak berkurang setelah pada hari Jumat lalu, saat Menteri Energi Rusia mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak waktu untuk memutuskan rekomendasi dari komite teknis dari OPEC+ guna mengurangi produksi minyak mereka sebanyak 600 ribu barrel per hari.

Sementara itu Menteri Perminyakan Aljazair Mohamed Arkab mengatakan pada hari Minggu bahwa komite telah menyarankan pengurangan produksi lebih lanjut sampai akhir kuartal kedua tahun ini.

Lebih lanjut Arkab mengatakan bahwa epidemi virus corona memiliki dampak negatif terhadap kegiatan ekonomi, terutama transportasi, pariwisata dan industri, khususnya di Cina dan sepertinya semakin meningkat di kawasan Asia serta dunia secara bertahap.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan Moskow membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai situasi, seraya menambahkan bahwa pertumbuhan produksi minyak AS akan melambat dan permintaan global masih solid.

Sedangkan Stephen Innes selaku kepala strategi pasar di AxiCorp mengatakan bahwa proposal untuk pemangkasan produksi lebih lanjut telah gagal untuk meringankan tekanan terhadap harga minyak, yang mana sebagian disebabkan karena proposal tersebut belum secara resmi dibahas oleh para menteri OPEC dan juga karena pihak Rusia terus mendorong kembali terhadap kebijakan pemotongan produksi lebih lanjut.

Innes juga menambahkan bahwa jika kelompok OPEC+ gagal mencapai kesepakatan, maka akan ada lebih banyak tekanan bagi harga minyak untuk berada dalam kondisi downside. Pedagang minyak juga mengatakan mereka khawatir pengurangan yang diusulkan tidak akan cukup untuk memperketat pasar global.(WD)

Related posts