Header Ads

Morgan Stanley : Hutang Cina Akan Memburuk Di Tahun Ini

Institusi perbankan investasi asal AS, Morgan Stanley menilai bahwa permasalahan hutang Cina akan mengalami kondisi yang semakin buruk di tahun ini. Namun demikian diperkirakan bahwa Beijing akan mampu mengelola risiko yang ditimbulkan oleh praktik shadow banking dengan lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Kepala Ekonom Cina dari Morgan Stanley, Robin Xing mengatakan bahwa mengacu pada rasio hutang terhadap GDP, besaran hutang Cina diperkirakan akan naik tiga hingga empat poin persentase dari angka pertumbuhan ekonominya. Lebih lanjut Xing mengemukakan kepada CNBC bahwa meskipun demikian untuk kali ini sedikit berbeda karena Cina menggunakan leverage yang lebih mudah dikelola atau lebih transparan dibandingkan membuka kembali praktik shadow banking, sembari pemerintah Cina meningkatkan kuota obligasi khusus lokal mereka yang memang mendapatkan dukungan dari negara.

Selain itu Xing juga mengatakan bahwa stimulus akan mulai memberikan dorongan di periode kuartal kedua tahun ini, yang mana ini merupakan suatu upaya pelonggaran insentif, menyusul laju ekonomi yang cukup lemah di periode kuartal pertama tahun ini.

Shadow banking diketahui mengacu kepada kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan keuangan di luar sektor perbankan formal dan oleh karenanya patuh terhadap tingkat pengawasan peraturan yang lebih rendah namun dengan risiko yang lebih tinggi. Hingga saat ini bank-bank milik negara lebih memilih untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah, karena dianggap sebagai pihak peminjam yang lebih aman dibandingkan perusahaan swasta. Dengan demikian pihak perusahaan swasta beralih mencari pinjaman ke shadow banking, yang mana hal inilah yang membuat tingkat hutang Cina keseluruhan mengalami peningkatan.

Negara ekonomi terbesar kedua dunia ini tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya kepada hutang, sembari memperketat peraturan sebagai proses untuk mengurangi besaran hutang bahkan mempercepat penghapusan hutang. Akan tetapi trade wars yang terjadi telah memperlambat upaya mereka untuk mengurangi tingkat hutangnya sebagai langkah untuk meningkatkan ekonominya.

Sementara itu Kepala Asia Economics dari Oxford Economics, Louis Kuijs dalam sebuah catatannya menyebutkan bahwa data kredit di bulan Januari menunjukkan bahwa sikap kebijakan moneter dan keuangan yang lebih mudah telah menghasilkan lebih banyak pinjaman kepada ekonomi riil. Akan tetapi Kijs mengharapkan adanya peningkatan pertumbuhan kredit keseluruhan secara moderat di tingkat tahunan sepanjang sisa tahun 2019 ini.(WD)

Related posts