Nationwide : Harga Rumah Di Inggris Naik Di Bulan Agustus

Institusi pemberi pinjaman asal Inggris, Nationwide melaporkan bahwa harga rumah di Inggris naik di bulan Agustus, sehingga mencatat kenaikan dalam laju tahuna tercepatnya dalam tiga bulan, sehingga menunjukkan semakin banyaknya tanda-tanda tentatif di pasar perumahan yang telah mengalami perlambatan pra-Brexit baru-baru ini.

Harga rumah naik 0.6% di tingkat tahunan setelah mencatat kenaikan 0.3% di bulan Juli. Pertumbuhan harga rumah Inggris merosot sejak referendum Brexit, terutama di kota London dan daerah sekitarnya, namun di tingkat nasional nampaknya pasar perumahan cenderung stabil.

Howard Archer, kepala penasihat ekonomi untuk EY ITEM Club, mengatakan bahwa dengan ekonomi Inggris saat ini yang tengah berjuang serta prospek yang tidak pasti, pihaknya menilai harga rumah masih akan tetap lemah meskipun terjadi kenaikan baru-baru ini dalam aktifitas di pasar perumahan. Archer menambahkan bahwa dirinya mengharapkan adanya pertumbuhan harga rumah di kisaran 1.0% untuk tahun ini secara keseluruhan, dengan mengacu kepada ukuran dari Nationwide.

Setidaknya stabilitas di pasar perumahan dapat terlihat dari laporan badan industri UK Finance yang mengatakan bahwa bank-bank Inggris mencatat persetujuan hipotek terbanyak sejak Februari 2017 pada bulan lalu.

Sementara itu sebuah survei dari bank AS, Citi dan lembaga YouGov menyebutkan bahwa ekspektasi rumah tangga Inggris terhadap inflasi di tahun depan, naik di bulan Agustus hingga ke level tertinggi sejak 2013 silam, yang kemungkinan akan mencerminkan meningkatnya peluang Brexit tanpa kesepakatan.

Dalam hasil survei tersebut masyarakat di Inggris mengharapkan inflasi dalam 12 bulan ke depan naik menjadi 3.2% dari 2.9% di bulan Juli. Dalam catatannya salah seorang ekonom di Citi mengemukakan bahwa kenaikan dalam hasil persentase tersebut, pada sebelumnya biasa dikaitkan dengan harga energi yang tinggi.

Namun dengan tidak adanya hal-hal tersebut saat ini, maka peningkatan tersebut dapat didorong oleh meningkatnya peluang pecahnya Uni Eropa pada akhir Oktober, yang dapat menyebabkan harga konsumen yang lebih tinggi melalui tarif, gangguan pasokan serta nilai tukar mata uang Poundsterling yang lebih lemah.(WD)

Related posts