Header Ads

Negosiasi Perdagangan AS-Cina Menemui Jalan Buntu

Hasil pertemuan lanjutan mengenai negosiasi perdagangan antara AS dan Cina pada hari Minggu kemarin, menemui jalan buntu seiring pihak Washington yang menuntut adanya perubahan secara konkret terhadap hukum di Tiongkok, namun pihak Beijing menyatakan bahwa mereka tidak akan mau untuk menyetujui sesuatu yang merugikan kepentingannya sendiri.

Trade war antara keduanya telah mengalami peningkatan tensi seiring AS yang menaikkan tarif bagi barang-barang Cina senilai $200 milliar pada Jumat pekan lalu, menyusul pernyataan dari Presiden Trump yang mengatakan bahwa pihak Beijing telah melanggar kesepakatan dengan mengingkari komitmen sebelumnya yang dibuat selama berbulan-bulan berlangsungnya negosiasi dari kedua negara.

Larry Kudlow selaku penasihat dari Gedung Putih, mengatakan bahwa Cina perlu menyetujui ketentuan penegakan hukum yang kuat untuk terciptanya kesepakatan akhir, seraya menyatakan bahwa titik balik dari itu semua adalah sikap Beijing yang enggan untuk melakukan perubahan hukum yang telah disepakati. Kudlow juga mengatakan bahwa kebijakan tarif AS ini akan tetap berlaku meskipun negosiasi masih berlangsung hingga saat ini.

Terkait dengan hal ini, sebuah surat kabar yang dikendalikan oleh Partai Komunis Cina yang berkuasa, People’s Daily mengatakan bahwa pihak Tiongkok tidak akan pernah kehilangan kehormatannya sebagai negara dan tidak ada seseorang yang mengharapkan Cina akan menelan “pil pahit” yang dapat membahayakan kepentingan utama mereka. Lebih lanjut disebutkan bahwa pihak Beijing masih sangat terbuka untuk melakukan pembicaraan, akan tetapi mereka tidak akan mau menyerah terhadap segala permasalahn penting yang menyangkut hal-hal yang sangat prinsip.

Sementara itu tabloid nasionalis China Times Global mengatakan dalam sebuah editorial pada hari ini, bahwa negara itu tidak punya alasan untuk takut terhadap trade war. Disebutkan bahwa pada dasarnya Cina tidak menyukai adanya trade war, namun demikian jika hal ini terpaksa dari sisi strategis, maka tidak ada kata lain bagi Tiongkok untuk menjaga kedaulatan dan martabat mereka, sekaligus untuk menjaga hak-hak pembangunan jangka panjang bagi rakyat Tiongkok.

Larry Kudlow juga mengatakan bahwa ada kemungkinan kuat bahwa Trump akan bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping pada pertemuan puncak G20 di Jepang pada akhir bulan Juni mendatang. Sebelumnya pasar berharap bahwa Trump dan Xi akan menandatangani kesepakatan perdagangan di KTT G20 mendatang, namun negosiasi tersebut mengalami kemunduran besar pada pekan lalu, ketika Cina mengusulkan adanya revisi besar-besaran terhadap rancangan perjanjian tersebut.

Pihak Beijing ingin menghapus komitmen sebelumnya bahwa undang-undang Cina akan diubah untuk memberlakukan kebijakan baru tentang sejumlah masalah mulai dari perlindungan kekayaan intelektual hingga transfer teknologi paksa. Sebelumnya Wakil Perdana Menteri Liu He, yang juga penasihat ekonomi utama Cina, telah berusaha untuk membela perubahan, dengan alasan bahwa Cina dapat mencapai perubahan kebijakan melalui dekrit yang dikeluarkan oleh Dewan Negara atau kabinet.

Akan tetapi Perwakilan Dagang AS Robert Lightizer justru menolak hal tersebut sembari mengatakan bahwa pihaknya ingin melihat adanya koreksi dalam perjanjian yang dikodifikasikan oleh hukum di Tiongkok, dan bukan hanya pengumuman dari Dewan negara, sehingga mereka harus melihat dengan lebih jelas, dan hingga mencapai level tersebut pihak AS harus tetap memberlakukan tarif.(WD)

Related posts