OPEC & Rusia Diperkirakan Akan Memperpanjang Kebijakan Output Minyak

Banyak pihak analis yang memperkirakan bahwa OPEC dan Rusia akan memperpanjang kesepakatan produksi minyak mereka, setidaknya hingga pertengahan tahun depan, namun jika kedua belah pihak sepakat untuk memangkas produksi mereka lebih banyak lagi, maka hal ini akan sedikit membutakan pasar komoditas minyak dunia yang tentunya merasa berpuas diri terhadap dampak positif dari pemangkasan produksi minyak dunia.

Menjelang pertemuan para menteri energi dari negara produsen minyak yang menjadi anggota OPEC di awal Desember mendatang serta di tengah kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam dua bulan, OPEC bersama dengan Rusia dan negara sekutu lainnya telah memiliki perjanjian yang saat ini masih berlangsung, untuk mengurangi tingkat produksi minyak mereka hingga sebesar 1.2 juta barrel per harinya, yang mana tingkat pemangkasan terbesar dilakukan oleh Arab Saudi.

Kepala strategi komoditas global di RBC, Helima Croft mengatakan bahwa hingga sampai di tahap ini, sejumpau produsen merasa bahwa kebijakan ini belum sempurna, sehingga ini menjadi saat yang sangat tidak menentu bagi OPEC seiring jurang pemisah antara negara produsen berskala besar dan kecil semakin melebar.

Selain itu keringanan harga belum cukup untuk mencegah terjadinya kerusuhan sosial di sejumlah negara produsen minyak utama, namun tidak ada pilihan yang lebih baik untuk saat ini.

Croft juga menyampaikan harapannya bahwa kesepakatan tersebut akan diperpanjang hingga bulan Juni mendatang dan akan dilakukan peninjauan kembali. Hal ini sesuai dengan perkiraan dari banyak analis bahwa kebijakan pemotongan produksi ini akan diperpanjang, bahkan beberapa diantaranya percaya bahwa OPEC dan Rusia akan memangkas dalam jumlah yang lebih besar dari saat ini.

Pertemuan OPEC yang akan berlangsung di Wina, Austria ini sangat penting artinya bagi Arab Saudi yang akan menerbitkan saham Aramco ke publik untuk yang pertama kalinya sebagai perusahaan yang dikelola oleh pemerintah Arab Saudi.

John Kilduff dari Again Capital mengatakan bahwa dirinya tidak akan terkejut jika pihak Arab Saudi akan melakukan lebih banyak pemangkasan produksi, guna memperketat pasar, bahkan bisa lebih dari yang sudah mereka miliki, yang mana Arab Saudi ingin memastikan harga minyak terus membaik, terutama jika mengingat penawaran saham perdana dari Aramco.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan dia tidak mendukung peningkatan ukuran pemotongan, dan Rusia menilai bahwa anggota harus dipaksa untuk mematuhi kebijakan pembatasan tingkat produksi tersebut. Rusia juga telah bersikukuh untuk memindahkan kondensat dari kesepakatan itu, yang berarti hanya akan menghitung produksi minyak mentah aktualnya, bukan produk sampingan minyak bumi lainnya.

Jika itu terjadi, bagian Rusia dari pemotongan akan turun karena total produksinya secara keseluruhan akan turun. Dengan demikian beredar spekulasi bahwasanya Rusia tidak senang dengan perjanjian produksi saat ini, karena perusahaan energi asal Rusia justru menentang keputusan pemerintahan Rusia tersebut.

Sedangkan analis energi di Citigroup, Eric Lee mengatakan bahwa kemungkinan kelompok OPEC+ dapat mempertahankan status quo mereka, menunda perpanjangan perjanjian pembatasan produksi serta mengadakan pertemuan sesaat sebelum tenggat batas waktu peneraoan kebijakan tersebut berakhir di bulan Maret mendatang.

Lee mengatakan itu bahkan mungkin Rusia dan Arab Saudi pada akhirnya bisa memutuskan perjanjian mereka, dan itu mungkin sudah berakhir kalau bukan karena masalah Rusia dengan minyak yang terkontaminasi awal tahun ini. Insiden itu memaksanya untuk mengurangi ekspor, dan hal ini menjadi sesuai dengan perjanjian itu.

Tetapi sebagian besar analis mengatakan perjanjian itu mendapat dukungan dari Presiden Vladimir Putin dan hal itulah yang paling penting.

Lebih lanjut Kilduff mengatakan harga minyak bisa lebih tinggi karena saat ini pasar mengabaikan gejolak di Timur Tengah dan sebagian besar terfokus pada pembicaraan perdagangan antara AS dan China.

Sanksi AS yang diterapkan kepada Iran dan Venezuela telah membantu menjaga pasokan tetap keluar di pasar, yang memungkinkan pasar untuk menyerap peningkatan pasokan minyak dari AS dan produsen lainnya.(WD)

Related posts