Header Ads

Output Industri Jepang Tumbuh Di Laju Paling Lambat

Data yang memuat output industri Jepang di bulan Februari dilaporkan naik di laju yang paling lambat dari bulan sebelumnya, serta sektor pabrikan memperkirakan laju produksi akan mengalami penurunan di bulan Maret, sehingga semakin menambah tanda-tanda bahwa dampak pandemi virus corona terhadap ekonomi Jepang telah berada di puncak resesinya.

Output pabrik naik 0.4% pada bulan Februari, melebihi perkiraan rata-rata pasar untuk kenaikan 0.1% namun lebih lambat dari kenaikan 1.0% pada bulan Januari. Sementara itu produsen yang disurvei oleh pemerintah memperkirakan bahwa output turun 5.3% di bulan Maret dan akan meningkat 7.5% di bulan April mendatang.

Hal ini dikarenakan para produsen mobil dan mesin mengalami penurunan produksi terutama akibat dari penutupan pabrik di Cina, yang menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam pengadaan suku cadang.

Sementara itu laju penjualan ritel dilaporkan naik, sedangkan tingkat ketersediaan pekerjaan justru mengalami penurunan ke level terendahnya dalam tiga tahun terakhir di bulan Februari, sebagai tanda hilangnya momentum ekonomi yang terjadi bahkan sebelum adanya kejatuhan akibat wabah virus yang meluas di bulan Maret.

Dilaporkan bahwa penjualan ritel naik 1.7% pada Februari dari tahun sebelumnya, karena penjualan department store yang lemah diimbangi oleh permintaan cepat untuk makanan dan minuman oleh rumah tangga yang harus tinggal dirumah akibat lockdown.

Sedangkan rasio pekerjaan terhadap jumlah pelamar dilaporkan turun menjadi 1.45 di bulan Februari dari 1.49 di bulan Januari, yang merupakan level terendahnya dalam hampir tiga tahun terakhir.

Seluruh data tersebut menggarisbawahi tantangan yang dihadapi oleh Perdana Menteri Shinzo Abe dalam mencegah pandemi yang telah menghapus manfaat dari kebijakan stimulus Abenomics bagi perekonomian Jepang.

Yoshiki Shinke yang menjabat sebagai kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, mengatakan bahwa data yang dirilis hari ini belum menghitung dampak dari gelombang lockdown global yang dimulai di pertengahan Maret, sehingga ditutupnya aktifitas ekonomi global telah menyebabkan ekspor dan output mengalami penurunan tajam dan ekonomi Jepang akan berkontraksi lebih dalam periode April-Juni dibandingkan di periode tiga bulan pertama di tahun ini dan kemungkinan tidak akan mampu bangkit dalam waktu yang cepat.

Sebelumnya ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut telah menyusut hingga 7.1% di tingkat tahunan dalam tiga bulan terakhir di tahun lalu akibat dari tekanan yang datang dari kenaikan pajak penjualan di tahun lalu serta terjadinya trade war antara AS dan Cina.(WD)

Related posts