Header Ads

Output Pabrik Jepang Mencatat Penurunan Terbesar Di Bulan Januari

Output pabrik Jepang di bulan Januari mencatat laju penurunan terbesarnya dalam setahun terakhir, menyusul dampak dari trade wars AS-Cina yang berakibat melambatnya permintaan dari Cina, sehingga melemahkan sektor manufaktur Jepang sebagai pendorong utama ekonominya.

Output mencatat penurunan 3.7%, yang mana angka tersebut lebih besar dari perkiraan rata-rata pasar di kisaran 2.5% yang sekaligus mencatat kontraksi dalam tiga bulan berturut-turut. Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), dalam laporannya mengharapkan adanya rebound output sektor manufaktur hingga 5.0% di bulan Februari, dan sedikit melambat 1.6% pada bulan Maret mendatang.

Kementerian tersebut memangkas penilaian terhadap output dengan mengatakan bahwa sektor tersebut tengah dalam fase perlambatan. Para pembuat kebijakan Jepang merasa khawatir bahwa laju output yang lamban berpotensi memberikan tekanan kepada pertumbuhan ekonomi, menyusul para eksportir yang membatasi laju pengirimannya serta para produsen yang menghentikan produksi akibat penurunan permintaan yang tajam dari Cina menyusul konflik perdagangannya dengan AS.

Sementara data ekonomi Jepang yang dirilis pada pekan lalu, menunjukkan laju ekspor mencatat penurunan terburuknya dalam lebih dari dua tahun terakhir di bulan Januari, yang diakibatkan oleh hal yang sama yaitu pengiriman ke Cina yang mengalami penurunan, sehingga hal ini memicu kekhawatiran mengenai prospek ekonomi Jepang yang sangat bergantung kepada sektor ekspornya.

Sedangkan data lainnya menunjukkan ukuran utama dari belanja modal Jepang yang menunjukkan pesanan luar negeri untuk produk mesin mengalami penurunan terbesarnya dalam lebih dari satu dekade terakhir di bulan Desember lalu, serta sentimen bisnis yang memburuk hingga berada di level terendahnya dalam dua tahun.

Ekonomi Jepang semakin suram pasca dirilisnya data penjualan ritel yang tumbuh hanya 0.6% di tingkat tahunan pada bulan lalu, yang mana sektor ini mengalami perlambatan tajam dari kenaikan 1.3% yang tercatat di bulan Desember. Laju penjualan ritel turun 2.3% yang disesuaikan secara musiman di tingkat bulanan pada Januari lalu, yang mana hal ini memberikan sinyal mengkhawatirkan terhadap sektor konsumsi swasta, yang menyumbang sekitar 60% terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang.

Meskipun laju ekonomi Jepang mengalami rebound di periode kuartal keempat lalu, menyusul belanja bisnis dan konsumen yang pulih, namun secara lebih luas sejumlah sektor masih memberikan indikasi adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negeri Matahari Terbit tersebut.(WD)

Related posts