Pasar Menantikan Detail Penerapan Kebijakan Moneter The Fed

Para pedagang dan investor menginginkan detail lebih lanjut mengenai rencana Federal Reserve untuk menyelesaikan ekspansi neraca dan program pinjaman jangka pendek terkait risalah pertemuan kebijakan mereka pada 28-29 Januari lalu.

Hal inilah yang menjadi pertanyaan utama bagi Stephen Stanley selaku kepala ekonom di Amherst Pierpont Securities, yang mengatakan bahwa pihak The Fed belum ingin mengunci diri mereka ke lintasan yang tepat, namun mungkin kita akan mendapatkan sedikit di akhir penerapan kebijakan serta bagaimana pandangan The Fed untuk periode yang lama.

Di luar kebijakan neracanya para pengamat The Fed memiliki harapan yang kecil bahwa risalah mereka akan menghasilkan diskusi yang bermakna mengenai wabah virus corona serta potensinya untuk menimbulkan gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi AS.

Sejak pertemuan tersebut terjadi peningkatan kekhawatirang mengenai penurunan laju pertumbuhan ekonomi AS, namun para pembuat kebijakan terus mengatakan bahwa kebijakan moneter mereka masih berada dalam kondisi yang baik.

Kepala strategi makro untuk Amerika Utara di State Street Corp, Lee Ferridge mengatakan bahwa para pembuat kebijakan telah menetapkan batasan yang sangat tinggi dan dirinya berpikir bahwa hal ini dapat berubah dalam waktu yang singkat.

Para pejabat The Fed telah meninggalkan kisaran target mereka untuk tingkat suku bunga federal tidak berubah di 1.5% menjadi 1.755 pada pertemuan Januari lalu dan Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap ditahan hingga prospek pertumbuhan ekonomi mereka berada dalam kondisi penilaian ulang material, yang mana sebagian besar pejabat memperkirakan laju pertumbuhan AS di tahun ini berada di kisaran 2%.

Pertanyaan yang timbul saat ini bermula dari reaksi The Fed terhadap lonjakan suku bunga overnight yang terjadi tiba-tiba di bulan September yang sontak membuat suku bunga acuan The Fed menjadi berada di luar kisaran targetnya.

The Fed segera merespons dengan program pinjaman jangka pendek, yaitu memompa uang ke pasar untuk perjanjian pembelian kembali, termasuk memulai program pembelian sebesar $60 milliar setiap bulannya dalam tagihan Treasury, yang merupakan sebuah langkah yang meningkatkan cadangan bank dan secara bertahap membuat pinjaman repo langsung dari The Fed dinilai tidak perlu karena kelebihan cadangan sering dipinjamkan ke pasar repo.

Pada 13 Februari Fed New York mengumumkan akan menyusutkan operasi repo lebih dari yang diperkirakan analis. Selain itu Powell mengatakan operasi repo akan berakhir secara bertahap. Para ekonom juga akan memeriksa risalah bagaimana anggota komite memandang prospek pengangguran dan inflasi.

Dalam hal ini laju inflasi terus berada di kisaran rendah, dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi naik hanya 1.6% pada tahun 2019 meskipun tingkat pengangguran mengakhiri tahun pada level terendah 50 tahun sebesar 3.5%.

Pada bulan Januari komite meramalkan inflasi pada akhirnya akan kembali ke target 2%, setelah pada bulan Desember para pembuat kebijakan The Fed mengatakan bahwa mereka memperkirakan inflasi akan mendekati target. Powell mengatakan perubahan itu dimaksudkan untuk menghindari saran bahwa pembuat kebijakan merasa nyaman dengan inflasi yang terus berjalan di bawah 2%.

Sehingga sejumlah ekonom menafsirkan bahwa perubahan tersebut sebagai sinyal pergeseran ke posisi yang lebih dovish, yang bertujuan untuk memastikan inflasi akan mengalami kenaikan ke targetnya setelah terus berada di kisaran rendahnya.(WD)

Related posts