Pasar Tenaga Kerja Hong Kong Mengalami Kerapuhan

Pasca mengalami gelombang protes politik selama berbulan-bulan serta ekonomi yang mulai masuk resesi, pasar tenaga kerja Hong Kong mulai mengalami kerapuhan setelah sebelumnya dinilai cukup tangguh dalam mengantisipasi dampak perang perdagangan AS-Cina.

Sektor ritel, restoran dan hotel telah memangkas upah dan jam kerjanya untuk membiarkan para stafnya mencari cara lain untuk bertahan hidup. Tingkat pengangguran akan mencapai level terendahnya secara luas jika tidak ada solusi terkait dampak dari kekacauan selama lima bulan.

Sementara itu data tingkat pengangguran di Hong Kong secara keseluruhan tetap di angka 2.9% sejak Juli, hingga mendekati rekor terendahnya dan kekuatan pasar tenaga kerja dinilai telah memudar.

Sedangkan tingkat konsumsi dan sektor pariwisata yang terkait, meliputi ritel, akomodasi dan jasa makanan, telah menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang lebih besar. Sektor ini mencatat kenaikan ke level tertinggi dalam dua tahun di angka 4.9% selama periode Juli hingga September.

Seiring tidak adanya tanda-tanda bahwa gelombang protes akan segera berakhir, kemungkinan besar pusat perbelanjaan, restoran dan sistem kereta bawah tanah akan ditutup.

Salah seorang ekonom di CLSA Ltd, Ines Lam mengatakan bahwa respon pertama dari para pengusaha terhadap penurunan pendapatan bisnis adalah memberi cuti kepada para pekerjanya tanpa dibayar serta memangkas jam kerja, dan dirinya menilai bahwa gelombang protes akan berlangsung lebih lama, selain itu sektor pariwisata, ritel dan makanan di Hong Kong akan mengalami penurunan lebih lanjut.

Lam memperkirakan pengangguran di industri ritel, akomodasi dan layanan makanan akan mencapai 10% di pertengahan 2020 mendatang, sehingga kemungkinan akan membuat tingkat pengangguran di kisaran 4%, level yang tidak pernah terlihat sejak November 2010.

Pada saat yang sama, kedatangan resesi berarti pekerja mungkin tidak menikmati mobilitas yang pernah mereka miliki, karena pilihan untuk pekerjaan alternatif di sejumlah sektor akan berkurang.

Tommy Wu selaku ekonom senior di Oxford Economics Ltd di Hong Kong, mengatakan bahwa sejumlah pekerja kemungkinan memilih untuk tidak berpartisipasi dalam angkatan kerja setelah diberhentikan, mengingat bahwa beberapa dari mereka kemungkinan akan tertarik untuk bekerja karena tingkat upah yang relatif lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir di tempat sebelumnya.(WD)

Related posts