Pasar Tenaga Kerja Jepang Mulai Ketat, Sinyal Positif Untuk Inflasi

jepangProduksi industri Jepang bulan lalu turun jauh lebih rendah dari yang diperkirakan dan tingkat pengangguran mencapai level terendah dalam 25 tahun terakhir sebagai tanda pemulihan ekonomi bertahap dari kemerosotan pada kuartal pertama, meskipun meningkatnya risiko terkait proteksi perdagangan AS.

Perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan negara-negara besar, termasuk pasar ekspor besar Jepang, yaitu China, telah membuat investor dan pembuat kebijakan khawatir bahwa perang tarif dapat menyebabkan pukulan besar terhadap ekonomi global.

Seberapa baik kinerja manufaktur Jepang kemungkinan akan menjadi kunci bagi prospek pertumbuhan, dan data hari Jumat yang menunjukkan output industri turun 0,2 persen secara bulanan di bulan Mei tidak semua menjadi berita buruk, data ini lebih baik dari perkiraan untuk penurunan 1,1 persen. Output naik 0,5 persen pada April.

Para ekonom memperkirakan output akan terus meningkat secara bertahap karena ekonomi luar negeri mulai menguat, meskipun friksi perdagangan dengan Amerika Serikat menimbulkan risiko terbesar terhadap prospek.

Tingkat pengangguran turun pada Mei menjadi 2,2 persen, terendah dalam lebih dari 25 tahun karena perusahaan sedang kekurangan tenaga kerja. Rasio jumlah pekerjaan-untuk-jumlah pelamar, sebagai ukuran permintaan pekerja, naik menjadi 1,60 dari 1,59 pada bulan April ke angka tertinggi sejak Januari 1974.

Ekonomi Jepang diperkirakan akan pulih pada kuartal kedua dari kontraksi kuartal pertama yang mengakhiri rentetan pertumbuhan terlama sejak gelembung ekonomi tahun 1980-an.

Penurunan output yang lebih kecil dari perkiraan dan pengetatan pasar tenaga kerja dapat menawarkan beberapa dorongan atau dukungan bagi bank sentral BOJ.

Pasar tenaga kerja yang ketat harus memberi tekanan naik pada upah, yang menunjukkan bahwa tekanan inflasi pada akhirnya akan terbentuk.

Related posts