PBOC Akan Meningkatkan Pelonggaran Kebijakan Moneternya

Sebuah sumber yang terpercaya mengatakan bahwa bank sentral Cina akan meningkatkan pelonggaran kebijakan moneternya guna mendukung ekonomi Cina yang telah hancur akibat pandemi virus corona, namun kekhawatiran terhadap hutang dan risiko di sektor properti akan mencegah mereka untuk mengikuti kebijakan sejumlah bank sentral di dunia yang memangkas suku bunga atau menerapkan pelonggaran kuantitatif.

Para pemimpin Cina telah berjanji untuk memerangi dampak dari pandemi yang tampaknya telah membuat ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengalami kontraksi di periode kuartal pertama, seiring meningkatnya angka kehilangan pekerjaan yang menimbulkan ancaman bagi stabilitas sosial.

Dikabarkan bahwa People’s Bank of China akan meningkatkan kredit dan sekaligus menurunkan biaya pendanaan, terutama bagi perusahaan berskala kecil yang dinilai penting bagi tingkat pertumbuhan dan pekerjaan serta sekaligus mengakomodasi peningkatan pengeluaran fiskal.

Pada Jumat lalu bank sentral Cina telah memangkas rasio persyaratan cadangan bagi bank, jumlah uang tunai yang harus dimiliki bank sebagai cadangan, untuk ketiga kalinya di tahun ini dan juga telah menurunkan suku bunga atas kelebihan cadangan bank untuk pertama kalinya sejak 2008 silam.

Dalam hal ini PBOC akan sangat bergantung pada kombinasi alat kebijakan likuiditas guna mendukung perekonomian Cina, seperti kebijakan rasio persyaratan cadangan serta berbagai kebijakan fasilitas pinjaman dan alat kebijakan berbasis harga termasuk suku bunga pasar dan suku bunga acuan pinjaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, PBOC, yang menggunakan berbagai alat untuk mengendalikan tingkat bunga dan jumlah uang beredar, telah mencoba mengembangkan tingkat kebijakan representatif tunggal seperti tingkat dana The Fed.

Kemungkinan PBOC akan memangkas besaran Loan Prime Rate (LPR) pada 20 April mendatang, menyusul penurunan suku bunga repo reserve sebesar 20 basis poin pada akhir Maret lalu serta memangkas suku bunga acuan deposito dalam beberapa bulan mendatang karena inflasi konsumen diperkirakan akan mereda.

Kebijakan pemangkasan suku bunga deposito dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap pemberi pinjaman dan menciptakan lebih banyak ruang untuk menurunkan suku bunga kredit.

Namun langkah tersebut berpotensi menimbulkan kondisi sensitif secara politis mengingat bahwa suku bunga simpanan riil sudah jauh masuk ke wilayah negatif.

Seperti diketahui bahwa PBOC telah mempertahankan suku bunga deposito acuan tidak berubah pada 1,5% sejak Oktober 2015.

Pada pekan lalu Wakil gubernur PBOC Liu Guoqiang mengatakan bahwa Cina akan berhati-hati dalam memotong suku bunga simpanan karena kenaikan inflasi dan dampak potensial pada penabung biasa.

Pada bulan lalu pembuat kebijakan global telah meluncurkan ledakan stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memerangi virus corona dan mencegah resesi global yang mendalam.

Suku bunga yang lebih rendah akan mendukung rencana pengeluaran pemerintah dan lebih banyak suntikan dana dari bank sentral akan membantu bank dan perusahaan membeli hutang pemerintah.

Disebutkan bahwa pemerintah Cina dapat memperluas defisit anggaran tahun 2020 ke rekor tertingginya. Salah seorang penasihat di bank sentral telah menyarankan untuk tidak menetapkan target pertumbuhan di tahun ini akibat masih adanya ketidakpastian.(WD)

Related posts