Pengeluaran Konsumen Inggris Melambat Di Bulan November

Berkurangnya kepercayaan terhadap laju ekonomi menjelang Brexit yang gagal diimbangi oleh penjualan online Black Friday, telah menyebabkan pengeluaran konsumen Inggris bulan November, tumbuh di laju paling lambatnya dalam lebih dari setahun terakhir.

Total volume belanja ritel Inggris dilaporkan naik 0.5% di bulan November, mencatat perlambatan tajam dari kenaikan 1.3% sebelumnya di bulan Oktober. Kepala Eksekutif dari British Retail Consortium, Helen Dickinson mengatakan bahwa permintaan konsumen yang lemah serta kepercayaan diri yang menurun, memberikan gambaran bahwa para retailer tengah berada dalam kondisi menjelang Natal, dan kondisi yang dirasakan sulit ini terjadi sejak terjadinya referendum untuk meninggalkan Uni Eropa, serta diperparah lagi dengan ketidakpastian yang melingkupi pertumbuhan ekonomi global.

Sementara itu secara terpisah, Barclaycard mengatakan bahwa ukuran yang lebih luas dari belanja konsumen menunjukkan kenaikan 3.3% di bulan November lalu, yang menjadi pertumbuhan paling lambatnya sejak bulan Mei. “Nampaknya para konsumen belum melakukan pembelanjaan utama untuk menyambut Natal, meskipun banyak pengecer yang menawarkan diskon Black Friday guna meningkatkan penjualannya”, menurut Direktur Barclaycard Esme Harwood.

Laju pembelanjaan di Inggris berjalan sesuai dengan ekonomi negara tersebut secara keseluruhan yang mengalami perlambatan sejak voting Brexit tahun 2016, yang diakibatkan oleh ketidakjelasan mengenai bagaimana Inggris akan meninggalkan Uni Eropa dalam waktu kurang dari empat bulan kedepan, sehingga memberikan beban berat bagi tingkat kepercayaan konsumen.

Barclaycard juga menilai bahwa konsumen lebih banyak menghabiskan uangnya untuk hiburan, seiring melonjaknya penjualan tiket untuk sejumlah event dan film baru. Perusahaan finansial tersebut mengatakan bahwa kepercayaan konsumen perihal kondisi keuangan mereka, saat ini berada di level terendahnya sejak 2015. Jika melihat bahwa kesepakatan transisi Brexit di tolak oleh anggota parlemen Inggris,

Perdana Menteri Theresa May nampaknya tengah mengambil risiko terhadap sektor bisnis yang diliputi kekhawatiran mengenai adanya gangguan rantai pasokan barang serta laju impor ke pasar Inggris. (WD)

Related posts