Penjualan Ritel AS Mengalami Perlambatan

Laju pengeluaran konsumen AS nampaknya mengalami perlambatan lebih lanjut di bulan Januari, seiring penjualan di toko-toko pakaian yang turun di laju paling besar sejak 2009. Penurunan ini meningkatkan kekhawatiran mengenai kemampuan ekonomi untuk terus berkembang dalam kecepatan yang moderat. Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel yang tidak termasuk mobil, bensin, bahan bangunan dan jasa makanan, tidak berubah di bulan lalu. Data untuk bulan Desember direvisi turun untuk menunjukkan apa yang disebut penjualan ritel inti tumbuh 0.2%, lebih rendah dari lonjakan 0.5% seperti yang dilaporkan sebelumnya. Sementara para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penjualan ritel inti naik 0.3% pada bulan lalu.

Angka yang tidak berubah dalam penjualan ritel inti menunjukkan belanja konsumen mengalami perlambatan lebih lanjut setelah kehilangan momentum yang cukup besar di kuartal keempat tahun lalu. Akan tetapi secara keseluruhan laju penjualan ritel naik 0.3% di bulan Januari, sementara untuk data di bulan Desember direvisi turun untuk menunjukkan laju penjualan ritel tumbuh 0.2% dari 0.3% seperti yang dilaporkan sebelumnya. Penjualan mobil naik 0.2% setelah merosot 1.7% pada bulan Desember. Penerimaan di stasiun layanan turun 0.5%. Penjualan di toko elektronik dan alat menurun 0.5% di periode yang sama.

Sedangkan untuk penerimaan di toko pakaian turun hingga sebesar 3.1% di bulan Januari lalu, yang merupakan angka terbesar sejak bulan Maret 2009 silam. Untuk penjualan ritel online dan pesanan naik 0.3%, menyusul penurunan 0.1% di bulan Desember sebelumnya dan penerimaan untuk toko furnitur dilaporkan naik 0.6% di periode yang sama. Data penjualan di restoran dan bar dilaporkan meningkat 1.2%, sementara untuk angka belanja terhadap barang-barang yang berhubungan dengan hobi, alat musik dan toko buku juga mengalami kenaikan sebesar 0.1%.(WD)

Related posts