Penurunan Harga Minyak Terbatas Menyusul Ketegangan Di Timur Tengah

Kenaikan yang terjadi secara mengejutkan terhadap stok minyak mentah AS serta ditambah dengan data output industri Cina di bulan April yang tumbuh kurang dari yang diharapkan, telah memberikan tekanan terhadap harga minyak sehingga mengalami penurunan meskipun terbatas akibat masih adanya dukungan dari meningkatnya tensi ketegangan di Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate turun 0.7% dari harga penutupan sesi sebelumnya. American Petroleum Institute merilis data stok minyak mentah AS yang secara tidak terduga mengalami kenaikan di pekan lalu, menyusul persediaan bensin dan produk sulingan juga mengalami peningkatan.

Dalam sepekan yang berakhir 10 Mei lalu, persediaan minyak mentah tercatat naik 8.6 juta barrel menjadi 477.8 juta barrel, yang mematahkan perkiraan penurunan sebanyak 800 ribu barrel dari para analis sebelumnya. Akan tetapi laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) baru akan dirlis pada malam nanti.

Edward Moya selaku analis pasar senior di OANDA mengatakan bahwa jika laporan dari EIA mengkonfirmasi adanya peningkatan yang kuat, hal ini akan memberikan beban bagi harga minyak, namun demikian tingginya risiko geopolitik tetap memberikan dukungan untuk harga minyak global.

Tensi ketegangan geopolitik meningkat setelah Arab Saudi mengatakan pada Selasa kemarin, bahwa dua stasiun pompa minyak mereka mendapat serangan dari drone bersenjata, yang mana ini terjadi hanya berselang dua hari setelah terjadinya sabotase tanker minyak di dekat Uni Emirat Arab.

Sementara itu pihak militer AS mengatakan bahwa telah bersiap untuk adanya kemungkinan ancaman yang dapat terjadi terhadap AS dari pasukan yang diduga mendapatkan dukungan dari Iran. Serangkaian serangan ini nampaknya terkait dengan ketegangan antara AS dengan Iran, menyusul keputusan Washington yang mencoba memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol sekaligus meningkatkan kehadiran militer mereka di kawasan Teluk untuk menanggapi apa yang disebut sebagai ancaman Iran.

Pada hari Selasa kemarin OPEC mengatakan bahwa permintaan dunia terhadap minyak dari negara anggotanya, akan meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan di tahun ini seiring pertumbuhan pasokan dari pesaingnya termasuk shale oil AS yang produksinya sedikit melambat. Hal ini merujuk pada kondisi pasar yang ketat jika kelompok negara eksportir minyak sedikit menahan diri untuk tidak meningkatkan outputnya.(WD)

Related posts