Header Ads

Penurunan Persediaan AS Mendukung Kenaikan WTI

Seiring menurunnya persediaan minyak mentah AS serta kebijakan pengurangan produksi oleh negara produsen utama minyak telah membantu meredakan kekhawatiran mengenai berlebihannya pasokan minyak sehingga mampu mengimbangi kecemasan terhadap jatuhnya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk Juli naik 61 sen atau 1.8% ke $34.26, sekaligus memperpanjang kenaikannya dalam enam sesi perdagangan beruntun.

Lembaga Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebanyak 5 juta barel, sementara dalam jajak pendapat oleh Reuters diperkirakan kenaikan 1.2 juta barel, sementara stok di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma juga mencatat penurunan 5.6 juta barel.

Capital Economics dalam sebuah catatannya mengemukakan bahwa seiring anda-tanda bahwa tekanan penyimpanan WTI mereda, maka ini menjadi sentimen yang positif bagi pergerakan harga minyak mentah, menyusul laporan terbaru yang menunjukkan bahwa penurunan stok berutang lebih kepada faktor pasokan daripada permintaan produk yang meningkat.

Pergerakan harga minyak mentah telah mengalami dorongan oleh data pengiriman yang menunjukkan bahwa OPEC, Rusia dan negars sekutu lainnya, yang lebih dikenal sebagai OPEC+ telah mematuhi janjinya untuk memangkas output mereka hingga 9.7 juta barel per hari.

Sekretaris Jendral OPEC mengatakan bahwa kebijakan organisasi ini telah mendapat dukungan dari reli harga serta tingkat kepatuhan yang kuat terhadap janji pemangkasan hasil produksi mereka, namun sebuah sumber lain mengatakan bahwa kelompok itu tidak mengesampingkan langkah lebih lanjut untuk mendukung pasar.

Wakil presiden Energy Consulting di IHS Markit, Victor Shum mengatakan bahwa dengan pasokan yang dikelola berdasarkan kepatuhan menjalankan kebijakan pemangkasan di antara negara anggota OPEC+ dan pulihnya laju permintaan di Asia Utara, khususnya di China, segalanya bergerak ke arah yang benar untuk mendukung harga minyak.

Lebih lanjut Shum mengatakan bahwa jika ada kejutan dalam gelombang kedua atau ketiga dalam pandemi virus, maka anggota kunci OPEC+, khususnya Arab Saudi, akan melakukan lebih banyak pemangkasan output produksi minyaknya dan pihaknya berharap pemulihan secara bertahap akan berlanjut di paruh kedua.

Secara fisik, pasar minyak mentah menunjukkan pergeseran cepat dari kelebihan pasokan yang sangat besar saat puncak lockdown di bulan April, untuk menuju perkiraan kekurangan pasokan di paruh kedua tahun ini.

Akan tetapi kekhawatiran tentang dampak ekonomi yang berkelanjutan dari pandemi ini, terutama di AS selaku negara konsumen minyak terbesar dunia, telah menimbulkan beberapa tekanan pada harga.(WD)

Related posts