Pertumbuhan Ekonomi Inggris Cenderung Stagnan Di Kuartal Keempat 2019

Laju pertumbuhan ekonomi Inggris selama kuartal terakhir tahun 2019 lalu cenderung datar, saat negara tersebut berada dalam ketidakpastian mengenai Brexit yang hanya ditandai dengan kemenangan Perdana Menteri Boris Johnson dalam pemilihan di bulan Desember lalu, yang mengarah kepada sejumlah tanda-tanda pemulihan di awal tahun ini.

Angka resmi yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan pertumbuhan nol persen pada kuartal keempat dibandingkan dengan kuartal ketiga, yang mana data ini sesuai dengan perkiraan median dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

Laju pertumbuhan ekonomi Inggris di tingkat tahunan dirilis di angka 1.1%, lebih kuat dari perkiraan ekonom di 0.8% dalam jajak pendapat, setelah revisi naik untuk pertumbuhan di beberapa kuartal sebelumnya.

Jeremy Thomson-Cook selaku kepala ekonom di penyedia pembayaran Equals Group, mengatakan bahwa ini menunjukkan kinerja ekonomi Inggris yang mengalami hambatan dari pemilihan pada 12 Desember lalu.

Data juga menunjukkan pertumbuhan triwulanan dalam pengeluaran rumah tangga yang naik hanya 0.1%, yang telah membantu memberikan dorongan bagi perekonomian Inggris untuk sebagian besar periode sejak referendum Brexit 2016, yang mencatat pertumbuhan paling lambat dalam empat tahun.

Investasi bisnis turun 1.0% dibandingkan periode yang sama, penurunan terbesar sejak akhir 2016. Sebelumnya ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa konsumen telah mengekang pengeluaran mereka di akhir 2019 lalu, dan angka-angka data sektor industri yang diterbitkan sebelumnya, hanya menunjukkan sedikit peningkatan di bulan Januari lalu.

Akan tetapi sektor korporasi nampaknya lebih optimis sejak kemenangan Johnson dalam pemilihan, yang mengangkat ketidakpastian jangka pendek mengenai apakah Inggris akan meninggalkan Uni Eropa di akhir Januari dan sekaligus mengakhiri kemungkinan pergeseran politik yang tajam ke sayap kiri dibawah Partai Buruh.

Pada bulan lalu Bank of England telah menunda kebijakan pemangkasan suku bunga karena mereka melihat adanya tanda-tanda pemulihan ekonomi.

Selain itu output manufaktur dilaporkan turun selama periode Oktober-Desember sebesar 2.5% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sehingga mencerminkan kondisi manufaktur yang akibat penutupan pabrik mobil di bulan November, saat Inggris tengah menghadapi prospek Brexit tanpa kesepakatan.

Menteri keuangan Inggris, Sajid Javid, diperkirakan akan memberi perekonomian negara itu dorongan dengan peningkatan belanja dalam anggaran pertama dari pemerintah pasca Brexit pada Maret mendatang.

Office for National Statistic mengatakan lonjakan ekspor komoditas Emas yang terkait dengan transaksi logam Mulia di London, menyebabkan surplus perdagangan bagi Inggris di bulan Desember.(WD)

Related posts