Header Ads

Pertumbuhan Ekonomi Jepang Pulih Pada Q4 Tetapi Friksi Perdagangan Masih Menjadi Perhatian

Ekonomi Jepang tumbuh pada kuartal keempat karena pengeluaran bisnis dan konsumen pulih dari bencana alam, namun proteksionisme perdagangan global tetap menjadi perhatian bagi negara tersebut.

Ekspansi tahunan pada kuartal keempat tumbuh 1.4 persen sesuai dengan estimasi dalam jajak pendapat Reuters. Angka ini mengikuti revisi kontraksi tahunan 2.6 persen pada kuartal ketiga karena banjir dan gempa bumi yang menghentikan sementara produksi.

Data juga menunjukkan ekspor naik 0.9 persen dari kuartal sebelumnya, yang merupakan kenaikan tercepat dalam setahun.

Terlepas dari peningkatan pengiriman, beberapa ekonom tetap khawatir bahwa ekspor akan melemah tahun ini jika Amerika Serikat dan China tidak menyelesaikan sengketa perdagangan mereka.

Data Kantor Kabinet menunjukkan GDP naik 0.3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sedikit lebih rendah dari estimasi dengan pertumbuhan 0.4 persen setelah mengalami kontraksi 0.7 persen yang direvisi pada Q3.

Belanja modal adalah pendorong pertumbuhan terbesar pada Oktober-Desember, naik 2.4 persen, dibandingkan dengan kontraksi 2.7 persen yang direvisi naik pada kuartal sebelumnya. Perkiraan median memproyeksikan belanja modal naik 1.8 persen.

Konsumsi swasta, yang menyumbang sekitar 60 persen dari PDB, adalah pendorong pertumbuhan terbesar kedua. Konsumsi naik 0.6 persen, lebih rendah dari perkiraan median yang mengharapkan kenaikan 0.8 persen dan mengikuti penurunan 0.2 pada kuartal sebelumnya.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, sebagai dua ekonomi terbesar di dunia, merupakan risiko besar bagi ekspor suku cadang mobil, elektronik, dan mesin berat Jepang ke China, yang digunakan untuk membuat barang jadi yang diperuntukkan bagi Amerika Serikat dan pasar lainnya. .

Risiko lain adalah rencana pemerintah Jepang untuk menaikkan pajak penjualan nasional menjadi 10 persen dari 8 persen pada Oktober.

Pemerintah membutuhkan penerimaan pajak tambahan untuk membayar biaya kesejahteraan yang meningkat, tetapi beberapa pembuat kebijakan dan ekonom khawatir kenaikan pajak dapat menekan pengeluaran konsumen dan melemahkan sentimen.

Related posts