Pertumbuhan Upah Anjlok Namun Pengeluaran Konsumen Jepang Diatas Estimasi

Pengeluaran rumah tangga Jepang naik melebihi dari yang diharapkan pada bulan Maret tetapi pertumbuhan upah riil anjlok terbesar dalam hampir empat tahun, meredam harapan bahwa sektor konsumen dapat melunakkan pukulan dari faktor eksternal seperti konflik perdagangan global.

Data ini menambah tanda-tanda pelemahan terbaru dalam ekonomi yang bergantung pada ekspor, yang telah terpukul oleh anjloknya pengiriman ke China dan output pabrik yang lemah, sehingga meragukan pandangan dari Bank of Japan yang melihat bahwa pertumbuhan akan pulih pada semester kedua tahun ini.

Prospek pemulihan yang memudar adalah salah satu topik utama perdebatan pada tinjauan suku bunga BoJ pada bulan April, dengan satu anggota dewan memperingatkan bahwa kenaikan pajak penjualan yang dijadwalkan pada bulan Oktober dan permintaan global yang lemah dapat mendorong negara itu ke dalam resesi, ringkasan pertemuan ditunjukkan pada hari Jumat.

“Mengingat tingkat pengangguran saat ini dan upah harus tumbuh sekitar 1 persen, kami berharap rebound dalam jam kerja akan memberikan angin penenang dalam beberapa bulan mendatang,” kata Marcel Thieliant, ekonom senior Jepang di Capital Economics.

“Tetapi karena aktivitas ekonomi masih lemah dan pasar tenaga kerja melambat, kami memperkirakan pertumbuhan upah akan terus jatuh di bawah kenaikan kuat tahun lalu.”

Pengeluaran rumah tangga naik 2.1 persen dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada hari Jumat, kenaikan untuk bulan keempat secara berturut-turut dan mengalahkan perkiraan pasar dilevel 1.7 persen.

Tetapi data terpisah menunjukkan upah riil yang disesuaikan dengan inflasi turun 2.5 persen di bulan Maret dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar sejak 2015, menimbulkan keraguan tentang ketahanan konsumsi.

Related posts