Header Ads

Pesanan Mesin Inti Jepang Turun Di Bulan Juli

Pesanan terhadap produk mesin di Jepang selama bulan Juli mengalami perlambatan pertumbuhan dari perkiraan, menyusul melambatnya laju permintaan global serta ditambah oleh ketegangan hubungan dagang AS-Cina yang masih berlarut-larut sehingga memberikan pukulan bagi investasi perusahaan di negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut.

Kantor Kabinet melaporkan data Core Machinery Orders, yang dianggap sebagai indikator belanja modal dalam enam hingga sembilan bulan kedepan, turun 6.6% dari bulan sebelumnya. Namun demikian penurunan ini masih lebih kecil dibandingkan perkiraan penurunan 9.9% dari para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, dari bulan sebelumnya yang mencatat kenaikan tajam hingga 13.9%, yang tercatat sebagai kenaikan bulanan terbesar sejak 2005 silam.

Para pembuat kebijakan telah mengandalkan ketahanan dalam pengeluaran perusahaan guna mengimbangi dampak dari perlambatan permintaan global serta Trade War AS-Cina yang belum menemukan titik temunya. Pada awal pekan ini, pemerintah Jepang telah merevisi turun laju pertumbuhan produk domestik bruto mereka di periode kuartal kedua, sehingga memberikan cerminan penurunan angka belanja modal akibat tekanan terhadap laju permintaan perusahaan.

Yoshiki Shinke selaku kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, mengatakan bahwa ada sejumlah tanda kelemahan diantara produsen, dan nampaknya akan sulit bagi mereka untuk meningkatkan pengeluaran bisnis akibat dari pelemahan ekspor dan produksi.

Jajak pendapat Reuters Tanka menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan bisnis di sektor pabrikan Jepang mengalami kondisi yang semakin buruk, dan mencapai level terendahnya dalam enam setengah tahun terakhir sehingga menggarisbawahi kekhawatiran mengenai prospek ekonomi.

Saat ini berkembang spekulasi yang mengatakan bahwa Bank of Japan dapat melonggarkan kebijakannya pada pertemuan di pekan depan, guna mencegah kemungkinan lonjakan nilai tukar Yen terhadap Dollar, serta sekaligus mengurangi dampak dari melemahnya permintaan eksternal di tengah semakin tingginya tingkat risiko terhadap prospek ekonomi Jepang.

Ketika dampak dari perang perdagangan AS-China meluas, para pembuat kebijakan bank sentral lebih terbuka untuk membahas kemungkinan memperluas stimulus pada pertemuan kebijakan mereka di 18-19 September mendatang.

Selain itu Bank of Japan juga harus memperhitungkan sejumlah tanda-tanda kelemahan domestik, seperti belanja rumah tangga yang lebih lambat sehingga mencerminkan bahwa para konsumen akan menahan diri untuk membelanjakan uang mereka, bahkan sebelum diberlakukannya kenaikan pajak penjualan di bulan depan.

Penurunan pesanan mesin ini, sebagian besar memberikan gambaran mengenai efek dasar dari kuatnya permintaah dari para pembuat peralatan transportasi di bulan sebelumnya. Akan tetapi Kantor Kabinet justru mempertahankan penilaian mereka terhadap pesanan mesin untuk tetap menilai adanya pertumbuhan di sektor tersebut.

Disebutkan bahwa pesanan inti dari produsen mencatat kenaikan 5.4% di bulan Juli, yang merupakan kenaikan untuk pertama kalinya sejak bulan April lalu, sedangkan dari sektor jasa justru mengalami penurunan sebesar 15.6%. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, maka pesanan inti yang tidak mencakup kapal dan listrik, mencatat kenaikan 0.3% di bulan Juli, sekaligus mematahkan ekspektasi penurunan hingga 4.5% dari para ekonom.(WD)

Related posts