Pesimisme Sektor Industri Korea Selatan Semakin Dalam

Sikap pesimisme sektor pabrikan tentang kondisi bisnis di Korea Selatan semakin mendalam saat memasuki kuartal ketiga, di saat ekonomi negara tersebut yang sangat bergantung kepada ekspor tengah dilanda badai, menyusul Jepang yang meluncurkan kebijakan proteksionisme perdagangan dengan Korea Selatan di tengah semakin panasnya tensi perselisihan perdagangan antara AS dan Cina.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Korea Chamber of Commerce and Industry (KCCI) terhadap 2300 produsen manufaktur, menunjukkan indeks survei bisnis di kuartal ketiga berada di angka 73, memburuk dari 87 di kuartal kedua. Dalam skala standar dari KCCI, angka dibawah 100 berarti menunjukkan lebih banyak pesimisme mengenai prospek bisnis.

Hasil survei indeks bisnis ini berbeda dari yang dirilis oleh Bank of Korea setiap bulannya untuk mengukur sentimen bisnis dari keseluruhan sektor industri di negara tersebut. Sebelumnya sentimen bisnis dari KCCI mengalami rebound tajam dari 67 pada kuartal pertama menjadi 87 pada kuartal kedua tetapi mundur lagi pada kuartal berikutnya.

Tingkat ekspor negara itu turun untuk bulan berikutnya secara berturut-turut di bulan Juni, dengan penurunan yang melebar menjadi dua digit akibat dari laju permintaan yang lamban dari Cina di tengah intensitas gesekan perdagangan antara AS dan Cina yang meningkat serta laju penjualan produk chip yang buruk.

Hanya ada tiga sektor yang tetap cenderung stabil di kuartal ketiga ini, yaitu precision medical, farmasi dan sektor pembuatan kapal. Sementara sektor lainnya berada di bahwa level 100, termasuk industri andalan Korea Selatan seperti otomotif dan suku cadang, industri baja, peralatan listrik, permesinan dan sektor pemurnian minyak. Ditilik dari wilayah, pesimisme lebih banyak terjadi di provinsi Gyeongsang Utara, Incheon, Gyeonggi, Daegu dan provinsi Gyeongsang Selatan.

Laju penjualan yang buruk akibat dari perlambatan pertumbuhan di dalam dan luar negeri dinilai menjadi hal yang paling mengkhawatirkan oleh para responden, dan diikuti oleh kenaikan biaya tenaga kerja. Namun demikian hanya 6.9% responden yang mengharapkan perbaikan dalam kondisi keuangan, sementara mayoritas responden lainnya sebanyak 56.9% menilai tidak akan ada perubahan yang signifikan.(WD)

Related posts