Header Ads

PMI: Manufaktur Jepang Menyusut Untuk Bulan Keempat Disebabkan Penurunan Ekspor

Aktivitas manufaktur Jepang kembali menyusut untuk bulan keempat berturut-turut pada bulan Agustus karena pesanan ekspor turun dalam kecepatan yang lebih tajam, sebuah survei bisnis awal uang dirilis pada hari Kamis.

Tetapi aktivitas sektor jasa tumbuh berkembang pada laju tercepat dalam hampir dua tahun, menunjukkan permintaan domestik yang kuat terus mengimbangi beberapa tekanan eksternal yang kuat bagi ekonomi.

Indeks PMI Manufaktur Jepang hanya tumbuh 49.5 dari 49.4 akhir pada bulan sebelumnya, tetap di bawah ambang 50.0 yang memisahkan kontraksi dari ekspansi untuk bulan keempat.

Output pabrik dan total pesanan baru mengalami kontraksi lagi, meskipun pada kecepatan yang sedikit lebih moderat dari pada bulan Juli.

Indikator aktivitas utama lainnya dalam laporan PMI menawarkan gambaran beragam. Ketenagakerjaan meluas, sementara simpanan indeks kerja naik ke level tertinggi delapan bulan, meskipun masih kontraksi.

Sebuah survei terpisah menunjukkan aktivitas sektor jasa Jepang naik, membantu mengangkat indeks PMI komposit gabungan yang mencakup manufaktur dan jasa.

PMI sektor jasa naik ke 53.4 dari 51.8 final pada bulan Juli ini merupakan level tertinggi sejak Oktober 2017.

“Pertumbuhan yang solid terlihat dalam PDB sejauh ini tahun ini dapat meregang ke kuartal ketiga, memberikan dorongan tepat waktu sebelum kuartal keempat, yang kemungkinan akan terpengaruh oleh konsekuensi dari kenaikan pajak penjualan,” kata Joe Hayes, ekonom di IHS Markit, yang menyusun survei.

Pertumbuhan yang terlihat di sektor jasa sejalan dengan angka-angka PDB yang dirilis bulan ini yang menunjukkan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu tumbuh 1,8% secara tahunan di kuartal kedua sebagian besar berkat konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi bisnis.

Jika berkelanjutan, pertumbuhan jasa yang solid dapat membantu mengimbangi tekanan eksternal pada ekonomi yang bergantung pada ekspor, yang telah dilanda oleh permintaan global yang lemah dan perang dagang AS-China.

Ekspor Jepang tergelincir selama delapan bulan pada Juli, terseret oleh pengiriman suku cadang mobil dan peralatan produksi semikonduktor ke China.

Related posts