Poundsterling Cukup Stabil Meskipun Terancam Hard Brexit

Ancaman terjadinya Brexit tanpa kesepakatan dalam tiga bulan kedepan nampaknya semakin meningkat, namun hal ini sepertinya belum menimbulkan kepanikan di kalangan pedagang di pasar mata uang London, sehingga belum ada pergerakan untuk membuang aset Inggris dari para investor.

Meningkatnya kemungkinan terjadinya Hard Brexit timbul setelah Inggris mengancam akan membatalkan sebagian dari kesepakatan perceraian Uni Eropa bulan ini, sehingga para pelaku pasar memperkirakan peluang 40% -45% untuk Inggris keluar dari blok perdagangan UE tanpa pengaturan alternatif pada akhir 2020.

Akan tetapi di saat krisis politik antara London dan Brussels yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir telah memasuki kondisi yang mungkin menjadi apa yang disebut “final stretch”, para investor dan pihak korporasi tidak akan bertindak secara terburu-buru untuk menjual mata uang Poundsterling atau melindungi nilai terhadap volatilitas seperti yang mereka lakukan saat risiko Hard Brexit meningkat di masa lalu.

Salah seorang pedagang mata uang Poundsterling di Barclays London, Ian Tew mengatakan bahwa kelelahan terhadap permasalahan Brexit pasti tengah terjadi di pasar, ditambah kasus virus corona yang juga sedikit mengesampingkan Brexit, sehingga tingkat partisipasi di pasar masih relatif ringan dan pada umumnya bersifat oportunistis.

Volume perdagangan dalam skala mingguan untuk mata uang Poundsterling mencatat kenaikan hingga 35% di minggu ketiga September dari akhir Agustus lalu, namun masih dibawah volume di sebagian besar minggu pada rentang September dan Oktober di tahun 2018 dan 2019 lalu.

Pada dasarnya Poundsterling telah mencatat penurunan hingga 5.8% di bulan ini dari 1.3481 pada 1 September lalu menjadi 1.27, sehingga ini membalikkan kenaikan yang dicatat pada bulan Agustus sebelumnya, namun para analis mengatakan bahwa langkah tersebut sepertinya dibesar-besarkan oleh adanya aksi hindar risiko secara masif yang memberikan dukungan terhadap Dollar, dibandingkan kecemasan terhadap Brexit.

Richard Benson selaku kepala investasi portofolio di manajer aset mata uang Millennium Global Investments, berpendapat bahwa aktivitas perdagangan sedang diredam oleh lebih banyak investor dan pedagang yang bekerja dari rumah.

Selain itu para pedagang juga menilai bahwa COVID-19 membayangi Brexit di benak investor dan eksekutif perusahaan, yang mana pihak eksportir yang biasanya menyesuaikan lindung nilai mata uang setelah penurunan yang terjadi terhadap Poundsterling, telah melihat bahwa strategi tersebut telah berbalik dengan merosotnya pendapatan.(WD)

Related posts