Header Ads

Poundsterling Melemah Seiring Berlanjutnya Tekanan Dari Greenback

Kekhawatiran para pelaku pasar terhadap rencana Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, telah memberikan dampak jatuhnya nilai Poundsterling hingga ke level terendahnya dalam 11 minggu terakhir terhadap US Dollar, menyusul masih kuatnya kinerja Greenback seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Cina. Salah seorang ahli strategi FX di TD Securities New York, Mazen Issa mengatakan bahwa sejumlah intrik politik terkait Brexit yang saat ini terjadi di Inggris, telah mengirim Poundsterling ke level terendahnya.

Banyaknya masalah yang terjadi di kawasan Eropa juga turut menjadi andil bagi berlanjutnya penguatan Dollar terhadap sejumlah mata uang Eropa lainnya. Turunnya data pesanan sektor industri di Jerman serta kekhawatiran yang timbul mengenai Italia yang diperkirakan akan meningkatkan pengeluaran sekaligus menentang aturan mengenai anggaran Uni Eropa, menjadi beban bagi mata uang tunggal Euro di sesi perdagangan Asia pagi hari ini. Sejumlah analis menilai bahwa ketegangan yang saat ini terjadi di perdagangan global, sedikit banyak telah memberikan dukungan bagi Dollar, dikarenakan kenaikan tarif akan mempersempit defisit perdagangan AS, dan juga ekonomi AS telah menempatkan diri untuk menyeimbangkan terhadap kebijakan proteksionisme.

Sejak pertengahan April lalu, indeks Dollar telah menguat hingga sebesar 6%, sementara pasar obligasi negara berkembang justru mengalami kejatuhan hingga lebih dari 10% di periode yang sama. Fokus utama pasar di pekan ini akan tertuju kepada laporan inflasi konsumen bulan Juli, yang diperkirakan akan menunjukkan adanya peningkatan 0.2% di bulan tersebut.(WD)

Related posts