Praet : Stabilitas Euro Dilemahkan Oleh Kesenjangan Kerangka Kerja

Kepala Ekonom European Central Bank, Peter Praet mengatakan bahwa zona euro perlu untuk lebih bersatu padu, jika ingin menepis keraguan dari pihak-pihak tertentu, yang mana hal ini bisa dimulai dengan general backstop terhadap sektor perbankannya.

Sejumlah pihak yang bersikap skeptis tengah bersiap untuk mendapatkan kursi di pemilihan anggota parlemen Uni Eropa mendatang, Praet mengakui bahwa reputasi mata uang tunggal telah ternoda setelah menjalani beberapa tahun dalam kondisi krisis. Lebih lanjut Praet mengatakan bahwa gagasan bahwa kawasan Euro akan memberikan stabilitas dan keamanan, telah dilemahkan oleh adanya kesenjangan dalam kerangka kerja tata kelola dari pihak Uni Eropa.

Sementara itu untuk setiap perbaikan dalam jangka panjang, kemungkinan akan melibatkan integrasi fiskal yang lebih dalam, dengan mengacu kepada kasus untuk penyelesaian serikat perbankan Eurozone yang melibatkan lembaga yang efektif untuk pembagian risiko publik, yang dapat menjadi referensi yang mungkin dapat diambil sebagai skema untuk sektor asuransi bagi para deposan di kawasan Eurozone.

Peter Praet akan mengundurkan diri sebagai kepala ekonom di bank sentral Eropa pada akhir bulan ini, dan kedudukannya akan digantikan oleh Philip Lane yang saat ini menjabat sebagai gubernur Bank Sentral Irlandia.

Sementara itu pergerakan mata uang Euro berada di level yang lebih tinggi dan bersiap mencatat kenaikan dalam dua pekan berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan bahwa setiap peningkatan dalam konflik perdagangan AS dan Cina akan memaksa para pembuat kebijakan AS untuk menurunkan suku bunga mereka.

Athanasios Vamvakidis, ahli strategi Valas di Bank of America Merrill Lynch, mengatakan jika China membalas maka ancaman perang perdagangan global akan mempengaruhi prospek ekonomi AS dan meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga Fed.

Lebih lanjut Vamvakidis mengatakan bahwa dalam hal ini The Fed memiliki lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakannya dibandingkan bank sentral lainnya, yang memberikan sinyal adanya pelemahan lebih lanjut dari Dollar terhadap Euro.(WD)

Related posts