Flying Ads
Flying Ads

RBA : Ekonomi Masih Kuat Namun Laju Inflasi Masih Jauh Dari Targetnya

Dalam RBA Monetary Policy Statement yang disampaikan tadi pagi, bank sentral Australia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat di tahun ini dan tahun depan, namun masih ada keraguan terhadap inflasi untuk mencapai targetnya sehingga hal inilah yang mendasari mereka untuk mempertahankan suku bunga dalam beberapa waktu kedepan. Dalam pertumbuhan mereka mengharapkan bahwa ekonomi Australia mampu berakselerasi menjadi 3.25% di 2018 dan 2019, sebelum pada akhirnya sedikit turun menjadi 3% di 2020.

Saat ini mereka menilai bahwa inflasi mengalami perlambatan hingga menjadi 1.75% di akhir tahun ini, atau dibawah perkiraan sebelumnya di 2%, akibat adanya pemotongan dari pemerintah di sejumlah harga, termasuk untuk listrik dan pendidikan. Namun mereka menilai bahwa laju inflasi inti akan meningkat secara perlahan menuju 2.25% di akhir tahun 2020 mendatang, namun masih dibawah batasan target dari RBA yaitu di kisaran 2% hingga 3%.

Untuk tingkat pengangguran nampaknya RBA masih melihat bahwa masih akan tetap berada di level 5.5% di tahun ini sebelum turun ke level 5.25% pada pertengahan tahun depan, namun angka tersebut dinilai oleh sejumlah kalangan belum mencapai level ideal saat ini yaitu di kisaran 5%, yang memberikan cerminan laju pasar tenaga kerja yang masih lemah. Selain laju pasar tenaga kerja yang masih lemah, tingkat pertumbuhan upah juga mengalami perlambatan di kisaran 2%, sehingga diperkirakan akan menambah tekanan ke bawah terhadap harga konsumen, meskipun ada sedikit bantuan dari pengadaan lapangan kerja yang mengalami sedikit kenaikan di tahun lalu.

Namun demikian RBA masih tetap optimis terhadap pertumbuhan output domestik, seiring peningkatan secara luas dalam aktifitas global serta peningkatan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur yang berpotensi mengangkat investasi non-pertambangan. Diluar itu semua RBA juga menyoroti risiko terhadap laju pertumbuhan global, seiring meningkatnya ketegangan perdagangan akibat kebijakan proteksionisme dari AS.(WD)

On Articles

Related posts