RBNZ Memperluas Program Pembelian Obligasi

Secara mengejutkan Reserve Bank of New Zealand memperluas program pembelian obligasi dan sekaligus mengeluarkan peringatan bahwa kebijakan suku bunga kemungkinan harus turun di bawah nol persen untuk menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda pandemi virus corona setelah negara tersebut kembali memberlakukan kebijakan lockdown.

Bank sentral Selandia Baru telah mempertahankan suku bunganya di 0.25% yang merupakan level terendahnya sepanjang masa, namun mereka memperluas program pembelian aset berskala besar (LSAP) hingga senilai NZ$100 milliar ($65.39 milliar), dari sebelumnya sebesar NZ$60 milliar, sekaligus memperpanjang tenggat waktu pembelian hingga pertengahan 2022 mendatang.

Mereka menggarisbawahi kesiapan para pejabat pembuat kebijakannya untuk meningkatkan dukungan, yang mana pihaknya akan mempertimbangkan secara aktif terhadap paket alat kebijakan moneter tambahan, termasuk suku bunga di kisaran negatif serta pendanaan ke bank berbiaya rendah, seraya mengatakan bahwa pembelian aset asing juga tetap menjadi pilihan bagi mereka.

Selain itu para anggota dewan kebijakan dari RBNZ telah bersepakat untuk menyetujui bahwa bank sentral harus mempertahankan fleksibilitas untuk menyesuaikan kecepatan dan komposisi pembelian obligasi.

Dalam hal ini Ben Udy dari Capital Economics mengatakan bahwa RBNZ telah mengirimkan pesan yang paling jelas bahwa suku bunga negatif akan diberlakukan, dan pihaknya masih mengharapkan bahwa bank sentral akan menunggu hingga tahun depan sebelum menerapkan suku bunga ke wilayah negatif, meskipun tetap mengandung risiko bahwa bank sentral akan bergerak lebih cepat dari perkiraan.

Nada dovish yang disuarakan oleh bank sentral datang saat Selandia Baru menerapkan kembali kebijakan pembatasan mobilitas di hari sebelumnya, karena munculnya kluster penyebaran virus setelah selama 100 hari sebelumnya tidak ada laporan mengenai munculnya infeksi virus.

Penemuan empat anggota keluarga yang terinfeksi di Auckland membuat Perdana Menteri Jacinda Ardern dengan cepat memberlakukan kembali pembatasan mobilitas secara ketat di kota terbesar Selandia Baru dan serta memberlakukan pembatasan perjalanan di seluruh negeri.

Dalam pernyataannya pasca pertemuan, pihak RBNZ mengatakan bahwa mengingat ketidakpastian kesehatan yang tengah berlangsung, masih ada risiko penurunan terhadap skenario ekonomi Selandia Baru secara mendasar, serta anggota Komite juga menyetujui setiap langkah di masa depan untuk menerapkan OCR yang lebih rendah bahkan negatif, dengan dilengkapi oleh program pendanaan untuk pinjaman, sehingga dapat memberikan cara yang efektif untuk memberikan stimulus moneter selain LSAP yang diperluas jika memang diperlukan.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa Reserva Bank of New Zealand telah mengejutkan pasar dengan kebijakan pemangkasan suku bunga hingga 75 basis poin di bulan Maret lalu, akibat pandemi yang mengguncang ekonomi negara tersebut hingga mengalami kemerosotan terburuk dalam hampir tiga dekade terakhir di kuartal pertama, serta produk domestik bruto diperkirakan akan menyusut lebih lanjut pada kuartal Juni, yang membawa negara itu ke dalam jurang resesi pertamanya sejak 2010.

Data terbaru menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari pandemi tidak separah yang dikhawatirkan, dengan tingkat pengangguran turun, inflasi terlihat meningkat dan pasar perumahan menjadi tangguh, namun demikian laporan adanya penyebaran virus di Auckland telah meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek pemulihan ekonominya.

Sementara itu Kepala Ekonomi di ANZ Bank, Sharon Zollner mengatakan bahwa tanpa pemangkasan OCR di pertemuan kebijakan hari ini, nampaknya akan sulit untuk membayangkan hasil yang lebih dovish, meskipun kabar buruk mengenai penyebaran virus yang disampaikan semalam telah meningkatkan ketidakpastian, namun jelas bahwa pihak bank sentral tidak melakukan apapun untuk mengurangi kemungkinan adanya kebijakan pemangkasan OCR lebih lanjut di tahun depan.(WD)

Related posts