Rendahnya Harga Minyak Menambah Penderitaan Negara Produsen Di Afrika

Anjloknya harga minyak global telah membuat negara produsen minyak di benua Afrika menghadapi sejumlah masalah, tidak hanya hilangnya pendapatan namun juga menghadapi jatuhnya pangsa pasar yang nampaknya sulit untuk mereka dapatkan kembali.

Sejumlah negara produsen minyak di Afrika, seperti Nigeria, Angola dan Aljazair tidak mampu untuk bersaing dengan biaya produksi yang lebih rendah dari negara sekutu mereka seperti Arab Saudi dan Rusia yang membanjiri pasar minyak.

Terkait akan akan hal ini, Menteri Perminyakan Republik Kongo telah menulis surat kepada sekjen OPEC untuk menyerukan adanya pertemuan darurat guna menemukan cara agar negara-negara anggota OPEC tidak tenggelam dalam resesi.

Penurunan harga minyak mentah global tidak saja menimbulkan tekanan terhadap anggaran yang sudah ketat, namun juga menyebabkan perusahaan minyak harus memangkas hingga milliara Dollar dari rencana pengeluaran mereka.

Salah seorang riset analis utama untuk Afrika di IHS Markit, Roderick Bruce mengatakan bahwa pihak perusahaan minyak tengah meninjau seluruh portfolio mereka setiap harinya, mengingat saat ini negara produsen minyak di Afrika tengah berada dalam posisi yang sulit.

Seperti yang terjadi di Nigeria yang mana produksi minyak mereka diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 35% tanpa adanya investasi di kilang minyak lepas pantai. Selain itu negara produsen minyak yang lebih besar telah menyingkirikan produsen Afrika keluar dari perdagangan spot yang sangat kompetitif.

Sementara itu Angola melaporkan laju produksi minyaknya yang turun hampir 2 juta barrel per hari menjadi 1.4 juta barrel per hari, di tengah upaya reformasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan produksi minyak mereka.

Negara-negara produsen minyak Afrika juga tengah menghadapi krisis uang tunai yang disebabkan oleh meluasnya pandemi virus corona, sehingga sekelompok menteri keuangan dari benua Afrika telah menyerukan paket stimulus sebesar $100 milliar untuk mengatasi pandemi yang terjadi saat ini.

Upaya pengurangan belanja publik hingga 30% juga dilakukan oleh Aljazair yang hutang publiknya telah naik menjadi 45% dari GDP mereka di akhir tahun lalu, dari sebelumnya sebesar 26% pada tahun 2017, serta telah mengarahkan perusahaan energi milik negara, Sonatrach untuk mengurangi separun investasi mereka yang tadinya direncanakan menjadi $7 milliar.

Sedangkan Angola tengah mempertimbangkan tawaran Eurobond senilai $3 milliar untuk menopang anggaran negara tersebut berdasarkan harga minyak di $55 per barrel.(WD)

Related posts