Header Ads

Reuter’s Poll : BI Akan Mempertahankan Suku Bunga Di 6.00%

Sebuah jajak pendapat dari Reuters mengemukakan bahwa bank sentral Indonesia akan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah secara beruntun dalam enam kali pertemuan kebijakan di Kamis lusa, akibat dari meningkatnya tensi perdagangan AS dan Cina yang memberikan tekanan terhadap mata uang Rupiah.

Sebelumnya sejumlah ekonom memperkirakan bahwa penurunan suku bunga di negara ekonomi terbesar Asia Tenggara pada tahun ini, diakibatkan oleh sikap Federal Reserve yang berbalik dovish serta data ekonomi Indonesia, termasuk kesenjangan neraca berjalan yang lebih kecil, laju inflasi yang lembut serta melemahnya pertumbuhan PDB, telah memberikan dukungan bagi langkah kebijakan tersebut.

Namun untuk pertemuan pada pekan ini, 20 analis dalam jajak pendapat tersebut, memperkirakan tidak akan ada perubahan dalam 7-day reverse repurchase rate dari Bank Indonesia, yang berada di kisaran 6.00% sejak November lalu. Pada tahun lalu Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga enam kali lipat hingga 175 basis poin guna mempertahankan nilai tukar Rupiah, sehingga menjadikannya salah satu bank sentral paling agresif di Asia, dan ini terjadi di tengah tekanan dari kenaikan suku bunga AS serta adanya kesenjangan rekening giro Indonesia yang besar.

Salah seorang ekonom di Nomura, Euben Paracuelles mengatakan bahwa ketegangan perdagangan yang kembali meningkat antara AS-Cina, telah mendorong terjadinya ketidakpastian eksternal yang signifikan, sehingga BI memilih bersikap lebih waspada dan sekaligus tetap mempertahankan sikap dalam memprioritaskan tujuan stabilitas kebijakannya.

Sejak pertengahan April lalu, nilai tukar Rupiah telah mengalami penurunan hingga 3% terhadap Dollar, seiring sentimen investor asing terhadap aset berisiko serta kenaikan siklus permintaan terhadap Greenback di Indonesia untuk alat pembayaran luar negeri. Pada periode kuartal pertama, laju ekonomi Indonesia tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan akibat melambatnya investasi menjelang pemilu.

Dari sembilan responden dalam jajak pendapat tersebut yang memberikan pandangan tentang tingkat benchmark akhir tahun, tujuh diantaranya mengatakan bahwa suku bunga acuan akan lebih rendah dari sekarang, sementara dua responde memperkirakan suku bunga akan tetap di 6.00%.

Sementara itu salah seorang ekonom di Bank Danamon menilai bahwa secara fundamental, pemangkasan suku bunga paling baik dilakukan setelah bulan November, karena diperkirakan nilai transaksi berjalan akan mengalami penyempitan secara signifikan di kuartal keempat tahun ini. Namun nampaknya BI kemungkinan ingin menunggu adanya penyesuaian harga bahan bakar, setelah presiden pemenang pemilu disumpah pada 20 Oktober.(WD)

Related posts