Header Ads

Reuter’s Poll : BoJ Akan Memperluas Kebijakan Stimulusnya

Nampaknya peluang untuk meluncurkan stimulus semakin terbuka setelah pada bulan lalu Bank of Japan berkomitmen untuk memperluas kebijakan stimulusnya jika perlambatan global menimbulkan hambatan bagi laju pemulihan ekonomi di Jepang. Hal ini disampaikan oleh lebih dari setengah ekonom yang disurvei oleh Reuters mengenai potensi kebijakan stimulus untuk mengimbangi perlambatan pertumbuhan global.

Selain itu potensi adanya kebijakan stimulus dapat juga terjadi apabila mata uang Yen Jepang menguat di bawah level 100 Yen terhadap Dollar, yang mana hal ini tentunya akan merugikan eksportir di negara tersebut, sehingga dapat mendorong bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut.

Pada bulan lalu BoJ mengatakan bahwa mereka akan melakukan pelonggaran kebijakan moneternya tanpa ragu jika terjadi peningkatan risiko eksternal dan menimbulkan ancaman terhadap momentum ekonomi Jepang dalam mencapai target inflasinya.

Hiroshi Ugai selaku kepala ekonomi di JPMorgan Securities Jepang, mengatakan bahwa sikap BoJ saat ini telah bergeser lebih condong kepada pelonggaran pre-emptive, yang mana bank sentral bersedia untuk mempermudah dalam menanggapi risiko melemahnya momentum ekonomi, dibandingkan harus menunggu bukti yang menunjukkan hilangnya momentum laju inflasi.

Dalam survei oleh Reuters tersebut ditanya apakah peluang pelonggaran bank sentral telah meningkat pasca pertemuan kebijakan di bulan Juli, dan 21 dari 38 ekonom dalam jajak pendapat tersebut menjawab “YA” dan 17 lainnya mengatakan “TIDAK” saat ditanyakan soal itu. Namun angka yang keluar pada Jumat lalu menunjukkan bahwa ekonomi Jepang berkembang lebih cepat dari yang diharapkan, tumbuh 1.8% di tingkat tahunan pada kuartal kedua lalu, seiring laju pengleuaran konsumen dan investasi bisnis yang menunjukkan kondisi yang sehat, meskipun laju ekspor mengalami kesulitan.

Akan tetapi nilai tukar mata uang Yen yang lebih kuat serta eskalasi perang perdagangan AS-Cina, sedikit mengkhawatirkan banyak kalangan terhadap laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada laju ekspornya.

Sebanyak 12 ekonom memperkirakan waktu pelaksanaan langkah pelonggaran BoJ akan terjadi di awal September, sementara 10 ekonom lainnya mengharapkan di bulan Oktober, dua ekonom memperkirakan di bulan Desember serta lima ekonom lainnya memperkirakan bahwa hal tersebut baru akan terjadi di kurun waktu antara paruh pertama tahun 2020 dan awal 2021 mendatang.

Selama enam tahun terakhir, bank sentral Jepang telah berusaha untuk mendorong laju inflasi menjadi 2%, namun para ekonom mengatakan bahwa inflasi hanya akan dapat dicapai sekitar setengah dari target tersebut untuk beberapa waktu kedepan. Disebutkan pula bahwa laju ekonomi Jepang akan tumbuh di kecepatan yang stabil saat memasuki tahun fiskal 2020 mendatang.(WD)

Related posts