Reuter’s Poll : Ekonomi Cina Meningkat Di Kuartal Ketiga

Negara ekonomi terbesar kedua di dunia, Cina diperkirakan dalam jajak pendapat Reuters, akan mengalami pertumbuhan 5.2% di periode Juli-September dari periode yang sama di tahun sebelumnya, dan menjadi lebih cepat dibanding kuartal sebelumnya di angka 3.2%, seiring penilaian mengenai konsumen yang kembali ke pusat perbelanjaan serta dibukanya kembali aktifitas ekonomi negara mitra bisnisnya.

Para pembuat kebijakan global tengah menggantungkan harapan mereka terhadap laju pemulihan yang kuat di Cina untuk membantu memulai kembali permintaan seiring ekonomi global yang berjuang dengan kebijakan lockdown yang parah serta gelombang kedua infeksi virus corona.

Seorang analis di Capital Economics mengatakan bahwa Cina telah menjadi negara ekonomi besar pertama yang kembali ke jalur pertumbuhan sebelum terjadinya pandemi virus, berkat penanganan Covid-19 yang lebih cepat dan respon stimulus yang efektif, namun disebutkan bahwa perlambatan baru kemungkinan akan terjadi di akhir 2021 seiring stimulus yang mereda.

Pengeluaran ritel China telah tertinggal dalam aktivitas pabrik karena kehilangan pekerjaan yang besar dan kekhawatiran yang terus-menerus tentang infeksi membuat konsumen tetap di rumah, bahkan ketika kebijakan pembatasan dicabut.

Dalam periode triwulanan laju besaran produk domestik bruto diharapkan tumbuh 3.2% di periode Juli-September, dibandingkan kenaikan 11.5% di triwulan sebelumnya.

Pemerintah Cina telah meluncurkan serangkaian tindakan, termasuk lebih banyak pengeluaran fiskal, keringanan pajak serta pemangkasan suku bunga pinjaman dan persyaratan cadangan bank untuk menghidupkan kembali aktifitas ekonomi yang dilanda virus sekaligus mendukung lapangan kerja.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan output industri tumbuh 5.8% pada September dari tahun sebelumnya, lebih cepat dari kenaikan 5.6% pada Agustus, sementara penjualan ritel terlihat naik 1.8%, dibandingkan kenaikan 0.5% pada Agustus.

Sementara itu People’s Bank of China telah meningkatkan dukungan kebijakannya di awal tahun ini, setelah meluasnya pembatasan perjalanan telah menimbulkan dampak negatif bagi aktifitas ekonomi, seiring bank sentral yang menerapkan kebijakan pelonggaran lebih lanjut.

Hal ini disebutkan dalam sebuah catatan dari analis di Nomura yang mengatakan bahwa di saat pemulihan pertumbuhan yang sedang berlangsung, namun masih adanya hambatan yang kuat, maka diperkirakan bahwa pemerintah Beijing akan mempertahankan pendekatan kebijakan “wait & see” di sisa akhir tahun ini.

Selain itu lembaga International Monetary Fund (IMF), telah merilis perkiraan tentang ekspansi ekonomi Cina hingga 1.9% selama tahun ini, yang mana ini menjadikan Cina sebagai satu-satunya negara ekonomi utama di dunia yang diperkirakan akan melaporkan laju pertumbuhan ekonominya di tahun ini.(WD)

Related posts