Header Ads

Reuter’s Poll : Ekonomi Jepang Masih Alami Kontraksi

Sebuah hasil jajak pendapat dari para analis yang dilakukan oleh Reuters mengemukakan bahwa perekonomian Jepang akan mengalami kontraksi yang lebih kecil dari perkiraan awal di tahun ini, namun dinilai belum mampu kembali ke tingkat sebelum terjadinya pandemi virus corona, setidaknya hingga awal 2022 mendatang.

Survei ini menyoroti langkah kebijakan Bank of Japan berikutnya, dan hal ini membuat para analis menjadi terpecah bahkan disaat ekonomi terus menderita akibat pandemi, sekaligus menggarisbawahi pandangan yang semakin luas mengenai bank sentral yang kemungkinan telah menghabiskan amunisi kebijakannya untuk menopang pertumbuhan.

Hasil jajak pendapat terhadap 27 analis menunjukkan bahwa negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut kemungkinan akan mengalami penyusutan laju pertumbuhan ekonominya hingga 5.3% di tahun fiskal yang akan berakhir di bulan Maret mendatang, direvisi naik dari proyeksi kontraksi 5.6% di bulan November lalu.

Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh data produk domestik bruto (PDB) yang direvisi yang menunjukkan ekonomi tumbuh 22.9% secara tahunan pada periode Juli-September, yang lebih baik dari perkiraan awal, karena konsumsi dan belanja modal yang mengalami pemulihan.

Selain itu paket stimulus ekonomi baru Jepang sebesar $ 708 miliar, yang mengikuti dua rencana pengeluaran besar-besaran untuk memerangi pandemi, dinilai juga akan mendukung pemulihan yang rapuh.

Para analis memperkirakan bahwa ekonomi Jepang akan mengalami rebound hingga 3.4% di tahun fiskal berikutnya, yang mana perkiraan ini tidak berubah dari hasil survei di bulan November, namun peningkatan jumlah kasus infkesi virus corona yang terjadi baru-baru ini berpotensi menimbulkan hambatan bagi laju pemulihan.

Sebanyak enam orang dari 40 analis yang disurvei memperkirakan bahwa ekonomi Jepang akan kembali ke level sebelum pandemi pada tahun fiskal yang akan dimulai pada April 2021 mendatang, sementara 15 orang analis memperkirakan ini akan terjadi pada tahun fiskal 2022 dan 19 orang analis mengatakan bahwa pemulihan ke level tersebut akan terjadi di tahun fiskal 2023 mendatang bahkan lebih lama lagi.

Harumi Taguchi yang menjabat sebagai ekonom utama di IHS Markit, mengatakan bahwa pemulihan dapat dipercepat jika peningkatan laju permintaan asing juga mengalami percepatan dan paket stimulus dari pemerintah mampu mendorong perusahaan untuk membelanjakan lebih banyak lagi.

Sementara ekonom di Sumitomo Life Insurance Company, Hiroaki Mutou menilai bahwa laju pemulihan ekonomi Jepang masih lebih lemah dibandingkan dengan negara industri lainnya di belahan dunia, seiring Jepang yang memiliki tingkat pertumbuhan potensial yang rendah, dan belanja modal Jepang saat ini sedang mengalami penurunan sehingga waktu yang diperlukan bagi ekonomi untuk kembali ke jalur pemulihannya kemungkinan akan berjalan lebih lambat dibandingkan negara lainnya.

Disebutkan pula bahwa indeks harga konsumen inti, yang tidak termasuk harga makanan segar yang bergejolak, diperkirakan akan turun sebesar 0.5% di tahun fiskal ini dan baru akan mencatat kenaikan 0.2% di tahun fiskal depan, tidak berubah dari jajak pendapat bulan sebelumnya.

Terjadi perpecahan pendapat di kalangan analis yang disurvei oleh Reuters mengenai langkah kebijakan Bank of Japan selanjutnya, jika pihak bank sentral memutuskan untuk mengubah arah kebijakan setelah mempertahankan kebijakan moneter tetap stabil sejak bulan Mei lalu.

Sebanyak 21 dari 41 analis memperkirakan Bank of Japan akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut, sementara 20 analis lainnya memperkirakan bank sentral Jepang akan mulai melepas kebijakan ultra longgar yang saat ini diterapkan.

Terkait akan hal itu Izuru Kato selaku kepala ekonom di Totan Research mengatakan bahwa Bank of Japan dapat memperpanjang atau bahkan memperluas langkah-langkah pelonggaran kredit mereka, namun tidak mungkin untuk mengadopsi langkah-langkah yang bertujuan untuk mencapai target harga untuk saat ini.

Diharapkan secara lebih luas bahwa bank sentral akan menjaga kebijakan moneter mereka tidak berubah pada tinjauan suku bunga di hari Jumat pekan ini, namun dapat memperpanjang berbagai langkah yang bertujuan untuk meredakan ketegangan masalah pendanaan perusahaan yang melebihi batas awaktu di bulan Maret lalu.(WD)

Related posts