Header Ads

Reuter’s Poll : Ekspor Jepang Di Bulan Juni Kemungkinan Akan Turun

Sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap sejumlah ekonom menyebutkan bahwa laju pengiriman produk Jepang ke luar negeri selama bulan Juni kemungkinan akan mengalami kejatuhan hingga dua digit dalam empat bulan berturut-turut seiring pandemi virus yang menghantam permintaan global dan aktifitas ekonomi Jepang.

Permintaan global untuk produk mobil dan barang tahan lama lainnya telah mengalami kejatuhan sejak bulan Maret akibat pandemi Covid-19 yang mendorong negara-negara di dunia untuk melakukan kebijakan lockdwon dan memaksa sektor bisnis mereka untuk ditutup serta memerintahkan warganya untuk tetap tinggal di rumah.

Meskipun saat ini semakin banyak negara yang membuka kembali aktifitas ekonomi mereka namun laju aktifitas cenderung mengalami penurunan sehingga para analis dan pembuat kebijakan memilih untuk memangkas prospek pemulihan dalam permintaan global.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan data pada hari Senin akan menunjukkan ekspor Jepang turun 24.9% pada Juni dari tahun sebelumnya, menyusul penurunan 28.3% pada Mei, yang merupakan penurunan tahunan terbesar sejak September 2009.

Sementara jajak pendapat terhadap 16 ekonom juga menunjukkan untuk impor kemungkinan akan mencatat penurunan sebesar 16.8% menyusul penurunan sebelumnya sebesar 26.2% pada bulan sebelumnya, sehingga akan mencatat defisit perdagangan sebesar 35.8 milliar yen ($333.96 juta).

Kenta Maruyama selaku ekonom di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, mengatakan bahwa baik ekspor maupun impor cenderung menunjukkan tanda-tanda bottoming out, sementara itu untuk pengiriman menuju Cina sepertinya akan memimpin laju pemulihan, sedangkan pengiriman ke AS dan Eropa terkait permintaan untuk produk mobil sepertinya akan pulih dalam laju yang lambat, sehingga dengan demikian laju pemulihan ekspor Jepang secara keseluruhan akan mengalami penundaan hingga musim gugur mendatang atau bahkan lebih lambat dari perkiraan.

Sebuah survei pabrik swasta untuk bulan Juni mengindikasikan bahwa pesanan baru masih jauh di wilayah kontraksi, yang mana lemahnya permintaan juga akan menjaga harga, memicu kekhawatiran terhadap terjadinya deflasi kembali, yang dinilai sebagai periode penurunan yang berkepanjangan.(WD)

Related posts