Header Ads

Reuter’s Poll : Ekspor Jepang Kemungkinan Turun Dalam Laju Paling Lambat

Kantor berita Reuters merilis hasil jajak pendapat mengenai laju ekspor Jepang yang diperkirakan telah mencatat penurunan selama 13 bulan berturut-turut di bulan Desember, namun turun dalam kecepatan yang lebih lambat dari bulan sebelumnya.

Dalam jajak pendapat terhadap 16 ekonom memperkirakan ekspor Jepang di bulan Desember kemungkinan akan mengalami penurunan sebesar 4.2% dari tahun sebelumnya, setelah sebelumnya mencatat penurunan 7.9% di bulan November.

Kenta Maruyama selaku ekonom di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, mengatakan bahwa meskipun ekspor tetap lemah, barang-barang yang berkaitan dengan informasi, seperti peralatan manufaktur, semikonduktor dan komponen elektronik mengalami peningkatan, sehingga pihaknya berharap laju ekspor akan pulih secara bertahap.

Analis juga mengatakan kemajuan dalam hubungan perdagangan AS-China setelah penandatanganan perjanjian perdagangan tahap pertama minggu ini akan membantu ekspor Jepang membaik dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara laju impor di bulan Desember diproyeksikan juga mengalami penurunan 3.4% dari periode yang sama di tahun lalu, sehingga kemungkinan akan menghasilkan defisit perdagangan sebesar 150 milliar Yen atau setara dengan $1.36 milliar). Pada bulan November sebelumnya, besaran defisit mengalami revisi menjadi 85.2 milliar Yen.

Kementerian Keuangan Jepang akan mempublikasikan data perdagangan pada hari Kamis 23 Januari pekan depan. Jajak pendaptan tersebut juga menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti, yang mencakup produk minyak, namun tidak termasuk biaya makanan segar yang mudah menguap, diperkirakan naik 0.7% di bulan Desember dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah mencatat pertumbuhan 0.5% di bulan November.

Sementara itu ekonom senior di Japan Research Institute, Yusuke Shimoda mengatakan bahwa harga yang berhubungan dengan energi telah mengalami peningkatan dan kenaikan harga di sejumlah produk makanan dan pakaian juga berkontribusi untuk meningkatkan CPI inti, namun laju pertumbuhan CPI inti berjalan lambat, tidak termasuk dampak dari kenaikan pajak penjualan.

Jepang menaikkan pajak penjualan menjadi 10% pada Oktober dari 8%, yang merupakan sebuah langkah yang dipandang penting untuk memperbaiki keuangan negara yang tengah dalam kondisi berantakan.

Disebutkan pula dalam jajak pendapat tersebut bahwa Bank of Japan akan mempertahankan suku bunga di minus 0.1% dan mempertahankan target imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun di kisaran 0%, saat pertemuan kebijakan pada pekan depan.

Sebuah sumber mengatakan kepada pihak Reuters bahwa Bank of Japan diperkirakan akan menjaga kebijakan moneternya tetap stabil di pekan depan dan sekaligus mendorong perkiraan pertumbuhan ekonominya, seiring kesepakatan perdagangan AS-Cina serta ketegangan yang meningkat di Timur Tengah sehingga menimbulkan tekanan dari bank sentral untuk kebijakan stimulus lebih lanjut.(WD)

Related posts