Header Ads

Reuter’s Poll : GDP Korea Selatan Akan Menyusut Tajam Di Q1

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters menyebutkan bahwa selama periode kuartal pertama ekonomi Korea Selatan kemungkinan mengalami penyusutan di laju tercepatnya sejak 2008 akibat terjadinya krisis kesehatan Covid-19 yang merusak laju aktifitas bisnis serta permintaan global.

Hasil survei terhadap 10 ekonom tersebut menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto Korea Selatan untuk periode Januari-Maret diperkirakan akan mengalami kontraksi musiman yang disesuaikan sebesar 1.5% dari kuartal sebelumnya.

Kontraksi yang terjadi ini merupakan yang terburuk sejak penurunan pertumbuhan GDP sebesar 3.3% di kuartal terakhir 2008 silam, dan penurunan yang pertama kalinya sejak terjadinya trade war antara AS-Cina yang menghantam laju pertumbuhan di kuartal pertama tahun lalu.

Seorang ekonom di DBS, Ma Tieying mengatakan bahwa ekonomi Korea Selatan seharusnya berkontraksi tajam di kuartal pertama karena guncangan dari sisi penawaran dan permintaan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, yang mana hal ini dibuktikan dengan penurunan tajam di produksi industri, penjualan ritel dan tingkat kepercayaan konsumen.

Disebutkan bahwa laju ekspor Korea Selatan anjlok hampir 27% dalam 20 hari pertama di bulan April, dengan penurunan ekspor ke Cina yang turun 17.0%, sementara ekspor ke AS dan Uni Eropa masing-masing mencatat penurunan 17.5% dan 32.6% di periode yang sama.

Jika dihitung dari periode yang sama di tahun sebelumnya, laju ekonomi terlihat tumbuh 0.6% di luartal pertama, melambat dari pertumbuhan sebesar 2.0% dari kuartal sebelumnya.

Pemerintah Korea Selatan telah mengusulkan penambahan anggaran sebesar 7.6 triliun Won atau sekitar $6.17 milliar guna menopang perekonomiannya, menyusul stimulus sebesar 11.7 triliun Won yang telah disetujui oleh para anggota parlemen Korea Selatan pada bulan Maret lalu serta ditambah paket penyelamatan ekonomi sebesar 100 triliun Won.

Sebagai upaya untuk memperkuat laju ekonominya, Bank of Korea telah memangkas suku bunga hingga sebesar 50 basis poin sekaligus meluncurkan kebijakan pelonggaran kuantitatif.

Ha Keon-hyeong selaku ekonom Shinhan Investment Corp, memperkirakan penurunan ekspor akan memburuk pada kuartal kedua, dan stimulus itu hanya akan membantu mengangkat ekonomi sebesar 0.5 hingga 1.0 poin persentase.

Menurut median dari 11 analis dalam jajak pendapat Reuters disebutkan bahwa selama tahun 2020 ini, ekonomi Korea Selatan akan menyusut 0.1%, yang mana ini merupakan penurunan terbesarnya dalam lebih dari dua dekade terakhir, sementara iMF memperkirakan kontraksi sebesar 1.2% di periode yang sama.

Pada awal bulan ini Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol mengatakan bahwa kebijakan pemotongan suku bunga lainnya kemungkinan diperlukan seiring bank sentral telah memangkas proyeksi GDP tahun ini menjadi kurang dari 1%, dibawah perkiraan 2.1% sebelumnya.(WD)

Related posts