Header Ads

Reuter’s Poll : Minat Beli Terhadap Mata Uang Asia Meningkat

Sebuah jajak pendapat dari Reuters mengemukakan bahwa posisi beli terhadap sebagian besar mata uang di kawasan Asia mengalami peningkatan, seiring para investor yang merasa semakin optimis terhadap rebound ekonomi di kawasan tersebut menyusul memudarnya kepercayaan terhadap nilai tukra Dollar serta ditambah dengan Cina yang bersiap untuk melanjutkan pemulihan ekonominya.

Seperti yang terjadi terhadap mata uang Yuan Cina yang mengalami lonjakan ke level tertingginya sejak awal 2018, menyusul para investor yang meningkatkan taruhan mereka sejak mengalami bullish di bulan Juli lalu.

Sebanyak 15 responden dalam jajak pendapat tersebut menilai bahwa dengan jumlah likuiditas yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dipompakan ke pasar oleh Federal Reserve serta bank sentral lainnya, dinilai telah berubah menjadi lebih menarik bagi investasi terhadap greenback yang seharusnya dianggap berisiko pada saat terjadinya pandemi yang telah menghancurkan ekonomi AS.

Seorang ahli strategi riset di Bank Central Asia mengatakan dalam sebuah catatannya di akhir pekan lalu, bahwa Dollar AS kemungkinan akan mengalami pelemahan selama 12 bulan ke depan seiring pertumbuhan global yang semakin cepat serta adanya penyempitan perbedaan kebijakan suku bunga riil yang terus menimbulkan hambatan bagi Dollar.

Mata uang US Dollar yang selama ini dipandang sebagai aset untuk lindung nilai yang aman, nampaknya bersiap menghadapi penurunan di tingkat bulanan untuk yang keempat kalinya secara beruntun, yang mana saat ini diperdagangkan di level terendahnya dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Sementara itu data ekonomi dari Cina sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia, meskipun masih rapuh namun telah menunjukkan laju pemulihan yang siginifikan, di tengah masih banyaknya negara di Asia yang menderita kontraksi ekonomi sebesar dua digit selama kuartal kedua lalu akibat kebijakan lockdown, namun banyak investor melihat bahwa kondisi terburuk kemungkinan sudah mulai berakhir.

Wei Liang Chang yang menjabat sebagai ahli strategi makro di DBS, mengatakan bahwa pemulihan saat ini dipandang sebagai sesuatu yang lebih berkelanjutan, yang mendorong arus masuk kembali ke Asia dan mendukung mata uang Asia terhadap mata uang Dollar.

Namun demikian ada salah satu mata uang di kawasan Asia yang dinilai investor masih tetap bearish yaiut Rupiah Indonesia, seiring ekspektasi berlanjutnya pelonggaran moneter di tahun ini, setelah pada hari Rabu kemarin Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunganya, yang mana analis masih memperhitungkan pemangkasan lebih lanjut di tahun ini sebagai langkah-langkah fiskal dan moneter lainnya.

Hasil jajak pendapat terhadap posisi mata uang Asia difokuskan pada apa yang diyakini oleh para analis dan pengelola dana sebagai posisi pasar saat ini terhadap sembilan mata uang di pasar negara berkembang di Asia, seperti Yuan Cina, Won Korea Selatan, Dollar Singapura, Rupiah Indonesia, Dollar Taiwan, Rupee India, Peso Filipina, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.(WD)

Related posts