Reuter’s Poll : Output Industri Jepang Kemungkinan Rebound

Sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap 13 ekonom menunjukkan bahwa output industri Jepang di bulan Juni akan mengalami rebound dari penurunan hampir dua digit di bulan sebelumnya, sebagai sebuah tanda bahwa aktifitas pabrik kemungkinan telah keluar dari kemerosotan mendalam yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Sementara rebound yang relatif kecil dalam output pabrik akan mengarah ke pemulihan ekonomi moderat ke depan, tingkat pengangguran diperkirakan akan merangkak naik dari level rendah selama satu dekade, sehingga menggarisbawahi dampak yang lebih berkepanjangan dari krisis kesehatan yang terjadi saat ini.

Hasil survei menyebutkan bahwa output pabrik kemungkinan akan tumbuh 1.2% di tingkat bulanan pada Juni, rebound dari penurunan 8.9% di bulan Mei yang disebabkan oleh kemerosotan output mobil dan mesin produksi.

Meskipun laju permintaan global untuk mobil dan barang tahan lama lainnya kemungkinan telah mencapai titik terendah akibat banyak negara yang telah membuka kembali aktifitas ekonomi mereka, yang dinilai oleh para analis hal tersebut berpotensi merusak laju konsumsi swasta yang menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu sebuah data dari pemerintah kemungkinan akan menunjukkan tingkat pengangguran yang naik menjadi 3.1% di bulan Juni, dari 2.9% di bulan Mei sebelumnya.

Rasio ketersediaan lapangan kerja diperkirakan akan memburuk menjad 1.16 di bulan Juni dari 1.2 pada bulan Mei, yang berarti bahwa kurang dari enam pekerjaan tersedia per lima orang pencari kerja.

Kondisi pekerjaan yang semakin memburuk akan memberikan hantaman terhadap sektor rumah tangga, namun akan menjaga konsumen dari laju pengeluaran seiring aktifitas ekonomi yang baru dibuka dari kebijakan lockdown yang diterapkan hingga akhir Mei untuk menahan penyebaran virus.

Hasil jajak pendapat juga menunjukkan bahwa penjualan ritel terlihat turun 6.5% di tahun ini hingga Juni, menyusul penurunan 12.5% di bulan sebelumnya.

Dengan mengacu pada semakin banyak rumah tangga yang tidak mampu membeli rumah, sehingga sektor perumahan kemungkinan akan turun 13.5% di semester pertama tahun ini, lebih buruk dari penurunan 12.3% di bulan sebelumnya.(WD)

Related posts